“Sebelah mataku yang mempelajari, Gelombang
kan mengisi seluruh ruang tubuhku, Terbentuk dari sel akut, Dan diabetes adalah
sebuah proses yang alami, Tapi sebelah mataku yang lain menyadari, Gelap adalah
teman setia, Dari waktu waktu yang hilang (Efek Rumah Kaca – Sebelah mata)”
Rela
melacur ke kota seberang bahkan ke negri tetangga, demi kepuasan mendapatkan
predikat gelar, demi kepuasan untuk mendapatkan nutrisi otak kiri. Mereka
pelacur intelektual, yang rela mengandalkan gaya hidup berburu dan merayu untuk
bertahan hidup di habitatnya. Berburu dan merayu demi mendapatkan huruf A,
berburu dan merayu demi mendapatkan “sensasi” serta “eksistensi”. Adalah
lumrah, adalah wajar, semua mengakui dan mengamininya, karena manusia adalah
mahluk pencari sensasi, kata seorang filsuf.
“Harus ada keresahan dulu sebelum pentas atau sebelum
berkarya, termasuk menulis, kalau tidak resah ya harus dicari keresahan itu.
Kalau merasa tidak resah, berarti ada yang salah dengan kepedulian atau
kepekaan kita”
Kisah Usro & Unyil Mencari Masalah
Senja perlahan
mendekat, burung serta unggas berkejaran kembali ke peraduan. Usro, salah
seorang mahasiswa Sastra Indonesia tingkat III di sebuah kampus ternama di
kotanya, melaju bak peluru dengan kuda besinya menuju kosan Unyil, teman satu
jurusan sekaligus teman satu angkatannya. Seperti bintang iklan - salah satu
produk motor, ia pacu kuda besi, kesetanan. Hanya dengan waktu 5 menit ia mampu
taklukan jarak 2 Km menuju kosan Unyil.
Denyut jantungnya
bising tak teratur. Setibanya di depan pintu kosan Unyil, Usro mendapati pintu
kosan Unyil tertutup rapat, di daun pintu kosan tampak sebuah gembok tergantung,
bersebelahan dengan sobekan kertas yang bertuliskan “Aku lagi keluar, ada kegiatan di UKM” . Dengan raut wajah kecewa,
dalam hati ia mulai menerka-nerka keberadaan Unyil, “Ah, sial..Unyil gak ada di kosan? Pasti dia lagi nongkrong di sekre
nih..”. Tanpa pikir panjang, Usro langsung meng-geber kuda besinya menuju sekretariat UKM tempat biasa Unyil
menghabiskan sebagian waktunya. Ternyata benar, persis seperti dugaan Usro, sore
itu Unyil sedang asik berdiskusi dengan teman-teman UKM-nya di dalam sekre.
Kali ini rupanya Dewi Fortuna berpihak pada Usro, saat ia hendak mendekati
pintu sekre UKM, bertepatan dengan moderator yang sedang menutup forum diskusi.
Ia pun tak jadi mengetuk pintu untuk memanggil Unyil. Usro duduk sejenak di
kursi panjang dekat pintu UKM sambil mengetik sms di ponsel’nya untuk Unyil, “aku skrg ada di depan sekre UKM km, keluar
doong! aku mau nanya2 ttg tugas yg buat besok”, begitu kira-kira sms yang
ia kirim untuk Unyil. Mengetahui dirinya sedang ditunggu, Unyil langsung menuju
keluar ruangan, kemudian langsung menghampiri Usro dan duduk tepat di sebelah
kiri Usro. “ehhm... kamu mau nanya tugas
yang mana? Tugas apa?”, tanya Unyil. Seolah tanpa jedah, Usro langsung
menyambar pertanyaan Unyil, “itu katanya mata
kuliah Kajian Drama ada tugas makalah tentang Dinamika Teater Kampus ya? Aku
bingung nih... gak ngerti masalah teater. Hahaha... ntar perumusan masalahnya
apa coba, lhah wong tau perkembangan teater aja aku enggak!”. Pertanyaan
demi pertanyaan mereka lontarkan dan mereka jawab, hanya untuk mencari tahu
sebenarnya ada masalah apa saja dalam dunia teater.
Pemain: Bupati, Ajudan Bupati, Polisi, Seniman I, II, Mahasiswa/Demonstran, Wartawan, Pak RT, Warga I, II, Pengamen I, II, Pengemis.
GAGEMONI, berasal dari dua suku kata yang berasal dari bahasa jawa, yaitu GAGE dan MONI. GAGE dalam bahasa Indonesia berarti “Segera”, dan MONI atau MUNI dalam bahasa Indonesia berarti “Bunyi” atau “Bersuara”. Segera bersuara! Itulah pengertian yang dihasilkan dari paduan kata GAGE dan MONI.
GAGEMONI, sekilas tampak mirip dengan kata HEGEMONI. Benar sekali! Saat terjadi Hegemoni yang menyebabkan diskriminasi sosial, seharusnya saat itu juga masyarakat GAGEMONI, atau segera bersuara! Jangan hanya diam. Bagaimana mungkin Bupati bisa tahu bahwa sedang terjadi diskriminasi sosial di perkampungan kita kalau kita hanya duduk manis di rumah? Bagaimana mungkin wartawan mau mendapatkan berita kalau kita tidak membuat berita?
Polisi, bukan hanya perut buncitnya yang masih kontroversial, tetapi peluru-peluru yang ia lepaskan kini seringkali menjadi bahan perbincangan bagi semua masyarakat, tidak terkecuali Ketua RT dan Petani yang kebetulan sedang Ronda keliling ladang - sawah.
Lagi-lagi mahasiswa, yang harus menjadi command enemy bagi aparat kepolisian. Mahasiswa berteriak menuntut keadilan di jalanan, di gedung DPR dan sebagainya. Namun masyarakat justru memandang sebelah mata aksi itu, masyarakat sudah pesimis cara itu dapat membuat perubahan atau tidak.
Sementara, saat seniman hendak berbicara tentang ketidakadilan dalam hal sengketa lahan pertanian, justru seniman disibukan dengan pembangunan gedung kesenian yang tersendat. Mereka ingin mengkritik pemerintah melalui sebuah pementasan, namun tidak ada media, tidak ada gedung pertunjukkan.
Petani hanyalah petani, yang selalu dianggap sebagai rakyat kecil, yang tidak mempunyai power lebih. Sama sekali tidak bisa mengintervensi kebijakan pemerintah. Begitupun juga dengan ketua RT yang sudah mendekati usia senja.
Pengemis yang justru lebih mengerti tentang realitas kemiskinan, lebih paham keadaan. Tetapi ia-pun tidak tahu dengan cara apa, agar suaranya dapat dihargai dan didengar oleh pemerintah. Begitu-pun juga para pengamen yang menciptakan lagu dan membawakan lagu-lagu kritik terhadap pemerintah, pada saat mengamen. Kritik-kritik mereka hanya berhenti pada koin recehan dan senyuman.
Kira-kira siapa yang suaranya mampu didengar? Suara siapa yang mampu membuat perubahan???
*Backsound Openning: lagu “Titi Kolo Mongso – Sujiwo Tejo”
(Panggung gaduh terdengar teriakan para Demonstran menuntut keadilan atas penembakan petani di kampungnya, sementara Polisi tetap berusaha mengamankan massa dengan menembakan peluru karet dan gas air mata ke langit-langit panggung)
Polisi: (Berbicara di depan megaphone) Sama sekali tidak ada kaitannya dengan upaya membantu Hegemoni pertanian setempat atau Hegemoni seisi panggung ini. Kami hanya aparat yang tetap berusaha agar terlihat baik di mata masyarakat sekalian.
Terlepas dari perut kami yang sudah semakin buncit ini, kami sebenarnya ingin mengabdi kepada masyarakat. Kami ingin sigap dalam setiap permasalahan, maka dari itu jargon kami saat ini adalah quickrespond, hotline via number (0231) 40265*......
Ancaman Ketidakteraturan Terhadap Lingkungan dan Dunia Intelektual
Oleh : Achmad Saptono, S.Sos
Perkembangan teknologi mau tidak mau perlu mendapatkan perhatian lebih dari semua kalangan, terutama dari kalangan praktisi dan akademisi yang mumpuni dalam bidang ini. Alasan yang mendasar adalah cepat atau lambat masyarakat Indonesia akan mengalami transformasi sosial menuju sebuah sistem teknologi atau teknorasi sebagai konsekuensi dari mengalirnya banjir alih teknologi dari negara-negara industri maju, kalau bukan karena keberhasilan para praktisi teknologi Indonesia di dalam pengembangan teknologi di masa depan.
“Saya pikir Cirebon sudah cukup gerah, tapi rasanya tidak begitu gerah kalau kita hanya duduk diam membiarkan anak-anak usia belasan tahun tanpa pendidikan karena faktor kemiskinan”
Belitong tahun 1974, setting waktu dan nama daerah dalam Film Laskar Pelangi. Film yang berangkat dari Novel berjudul “Laskar Pelangi” karya Andrea Hirata ini benar-benar menjadi warning tersendiri bagi para praktisi maupun akademisi di zaman sekarang. Film ini mencoba mengkomparasikan bagaimana kondisi sekolah swasta/SD Inpres dan SD negeri pada zaman rezim Orde Baru. Pada masa Orde Baru, pendidikan secara perlahan memang sudah dikomersilkan. Sampai saat ini, dalam kenyataannya, negara sepertinya memang tidak pernah menjalankan secara konsekuen, tidak pernah konsisten dengan amanat UUD 1945 terutama terkait persoalan pendidikan.
“Matahari terbit | fajar tiba | dan aku melihat delapan juta kanak – kanak | tanpa pendidikan... (W.S.Rendra, Sajak Sebatang Lisong, 1978)
Di tahun 1978 yang lalu Alm. W.S. Rendra dalam sajaknya mengatakan kurang lebih sebanyak 8 Juta anak-anak yang tidak bisa memanjat menara gading bernama pendidikan. Saking kokohnya menara itu di mata masyarakat Indonesia, sehingga tidak heran jika dalam film Children of Heaven, sosok Ali Mandegar dan Zahra digambarkan harus bekerja sama dengan cara bertukar sepatu setiap hari untuk memanjat menara gading itu. Entah masih berapa banyak lagi Ali dan Zahra lain di Indonesia yang benar-benar belum dilirik sama sekali oleh pemerintah.
Keprihatinan dunia terhadap perempuan sudah lebih dari 30 tahun yang lalu disuarakan, tepatnya pada Konferensi Perempuan Dunia I di Mexico tahun 1975. Keprihatinan ini muncul karena dorongan semakin banyaknya kasus kekerasan terhadap kaum perempuan. Keprihatinan perempuan Indonesia berkembang di Indonesia diawali dengan munculnya gerakan emansipasi wanita, atas pelopor pejuang perempuan asal kota Jepara, Jawa Tengah. Raden Ajeng Kartini, tokoh perempuan Jawa sekaligus Pahlawan Nasional yang kemudian dikenal sebagai sang pelopor kebangkitan para perempuan pribumi.
Setengah terbenam mentari kala itu, menjemput lamunan tentang pagi. Arie yang sudah satu setengah bulan dinyatakan lulus SMA bangkit dari tempat tidurnya, kemudian bergegas menuju kamar mandi. Ia langsung membasuh wajahnya dengan air yang ia kucurkan dari kendhi tempat menampung air wudhu. Setelah selesai membasuh wajah, ia kembali ke kamar untuk ganti pakaian. Usai istirahat tidur siang biasanya Arie memang sering main ke rumah teman sekelasnya, Bima. Bahkan sampai sekarang ia masih sangat akrab dengan Bima, sore ini Arie janjian dengan Bima tepat pukul 04 di rumah Bima akan pergi menengok Shanti yang dikabarkan sedang sakit. Shanti adalah teman perempuan yang juga satu kelas dengan mereka. Celana abu-abu dan kaos oblong/T-shirt, pakaian itu yang sering Arie kenakan ketika bermain setelah pulang sekolah dan setelah istirahat tidur siang.
ilustrasi
Dua pintu lemari pakaian sudah terbuka lebar, ia menjulurkan kepala ke dalam lemari, melongok dan memilih kira-kira pakaian apa yang akan dikenakan sore ini. Mengingat ia sudah tidak lagi berstatus sebagai siswa SMA, perasaan kurang percaya diri bercampur malu melekat dalam diri Arie. Sedangkan saat ia hendak mengenakan celana lain, menurutnya memang tidak ada celana yang pantas untuk ia kenakan selain celana abu-abu kesayangannya saat masih sekolah SMA. Celana panjang dengan model sama namun dengan varian warna yang bermacam-macam terlihat sangat rapih tersimpan di dalam lemari pakaiannya, tapi sama sekali tidak ia lirik, ia tidak tertarik untuk mengenakan celana-celana itu.
Siang yang terik aku habiskan untuk menghadiri diskusi seputar “Nasionalisme” di sebuah kampus swasta di Kotaku. Dengan pembicara yang berapi-api memaparkan pentingnya rasa Nasionalisme untuk membangun Indonesia seutuhnya. Kalau aku simpulkan, cara pembicara memaparkan materi secara umum menggunakan pendekatan Filsafat. Mengingat peserta diskusi yang rata-rata mahasiswa semester 1, saat itu juga aku berpikir “apakah semua peserta diskusi ini akan mengerti tentang apa yang disampaikan oleh pembicara?”. Setelah kurang lebih 45 menit pemaparan materi berjalan, tiba-tiba terdengar suara riuh nan kompak dari peserta diskusi yang tepat duduk di barisan paling belakang , “Setuju!!! Betul!!!”, lalu saat pembicara melemparkan pertanyaan, “Indonesia saat ini sedang dijajah oleh pihak asing melalui berbagai cara, apakah kita akan diam saja?, peserta di barisan belakang dengan kompak menjawab, “tidak!!!”. Dan tak lama kemudian, sang pembicara membacakan sumpah, janji atau baiat yang isinya tentang semangat berpegang teguh pada Nasionalisme yang mengacu pada Pancasila. Pasca acara tersebut selesai, banyak pertanyaan yang terlontar dalam benakku, diantaranya adalah “memang harus dengan cara seperti ini ya untuk menunjukkan rasa Nasionalisme kita? Kayaknya banyak cara deh untuk menunjukkan rasa Nasionalisme kita itu, tapi caranya apa aja ya?”.
Berawal dari pengalaman tersebut, di tulisan ini aku membicarakan tentang “Nasionalisme, antara harapan dan kenyataan”. Sepertinya isu Nasionalisme masih seksi bagi beberapa kalangan masyarakat. Seksinya isu itu yang kemudian dijadikan peluang oleh politisi untuk memobilisasi massa. Dengan menjual kata “Nasionalisme”, para politisi mengatakan ingin mewujudkan masyarakat yang sejahtera, masyarakat yang cinta tanah air, menjunjung tinggi nilai-nilai pancasila dan sebagainya. Bukannya aku pesimis atau anti Nasionalisme, aku sepakat bahwa semangat Nasionalisme itu harus tetap terintegrasi dalam hati sanubari seluruh warga Indonesia. Namun permasalahannya adalah terlalu ekstrim ketika para politisi yang menjual Nasionalisme, sampai-sampai ia mempersiapkan sumpah tersendiri yang memaksa peserta forum diskusi untuk mengikuti membaca sumpah tersebut.
Seringkali di acara upacara bendera dalam rangka peringatan hari-hari besar dikatakan bahwa dengan mengikuti upacara bendera merupakan bukti bahwa kita mempunyai rasa nasionalisme. Dalam hati aku berpikir, “berarti yang gak ikut upacara bendera, gak punya rasa nasionalisme dong?”. Upacara bendera merupakan seremonial, merupakan ritual yang rutin dilaksanakan di sekolah-sekolah setiap hari senin atau di setiap hari-hari besar. Saat momen pengibaran bendera, semua peserta upacara diwajibkan mengangkat tangan dengan posisi hormat kepada bendera dua warna itu. “kepada sang saka merah putih, hormat graak!!!” demikian teriak pemimpin upacara dalam setiap momen upacara bendera yang masih aku ingat dengan jelas sampai sekarang. Tak heran jika beberapa waktu yang lalu saat ada sekelompok orang yang menginjak-injak bendera tersebut, kemudian menjadi masalah besar karena dianggap tidak menghormati Indonesia, tidak punya rasa Nasionalisme atau apa-lah itu.
Isu Nasionalisme kembali diangkat dalam rangka meningkatkan semangat menuju pembangunan Indonesia seutuhnya, ini katanya. Kata beberapa kelompok orang yang memang benar-benar fanatis dengan fokus kajian kebangsaan atau Nasionalisme dalam komunitasnya sendiri. Dan kalau dipikir-pikir, kelompok ini yang kemungkinan dalam jangka panjang kemudian bisa merubah arah gerakan menjadi separatisme. Kenapa aku katakan demikian? Karena demi kepentingan tertentu kelompoknya, mereka bisa melakukan hal-hal apa saja sampai-sampai melupakan norma yang berlaku di Indonesia. Sebut saja NII misalnya, kelompok yang katanya mempunyai kepentingan ingin mendirikan negara tandingan selain Republik Indonesia. NII bisa saja menggunakan Nasionalisme sebagai alat untuk memobilisasi massa dengan iming-iming Nasionalisme, atau bahkan untuk memecah belah satu sama lainnya.
Soekarno-Hatta, M.Yamin, Bung Tomo atau tokoh Pahlawan nasional lainya aku kira tidak serta merta tanpa tedeng aling-aling saat menggagas isu Nasionalisme, tidak lain karena mereka ingin menyatukan bangsa Indonesia. Sama halnya dengan para politisi di jaman sekarang yang memang jelas-jelas punya kepentingan saat mereka berbicara panjang lebar tentang Nasionalisme, karena memang partai politik mereka yang kental dengan isu Nasionalisme lalu mereka menjual kata Nasionalisme tersebut untuk mencari suara dari rakyat. Orang yang benar-benar mengagung-agungkan nasionalisme, kemudian terlibat aktif dalam partai tertentu dan kemudian menjadi sangat fanatis, ia menjadi sangat sensitif, bahkan sangat diskriminatif ketika mengetahui lingkungan masyarakat yang menurut mereka kurang mempunyai rasa Nasionalisme. Mungkin karena hal ini juga, yang menyebabkan terjadinya insiden penangkapan kelompok mahasiswa yang sedang melakukan aksi demonstrasi dengan cara penurunan bendera merah putih di kota Purwokerto beberapa tahun yang lalu.
Selain sebagai bahan refleksi guna menyambut momentum Peringatan Sumpah Pemuda 28 Oktober nanti, memang tidak ada tujuan lain dalam tulisan ini, hanya ingin mengajak pembaca untuk mendiskusikan dan merefleksikan tentang apa itu esensi dari Nasionalisme, lalu bagaimana cara mengimplementasikannya.