"Sekadar umpatan yang tersimpan dalam barisan kata"

Sabtu, 27 September 2014

Teater, Terasing hingga Kering


Teater, Terasing hingga Kering
Oleh : Tino Achmad Saptono[1]

Seni Teater di Cirebon dalam perkembangannya dikatakan jalan di tempat. Meski Cirebon adalah kota tempat dilahirkannya para teaterawan besar seperti Arifin, C. Noer, Nano Riantiarno, dan seniman-seniman lainnya. Ya, barangkali sedikit berbangga, tak apa. Karena toh mereka di Cirebon hanya numpang lahir saja, hidup dan dibesarkannya di kota lain..



Share:

Senin, 17 Maret 2014

Selamat Datang di era Opohdernitas


#Opohdernitas

Dunia semakin tidak seimbang, semakin semrawut, semakin tidak masuk akal, kacau balau, dunia ini semacam sedang trance. Fenomenalnya, kini masyarakat di dunia berbondong-bondong melakukan facebook-isasi twitter-isasi, bbm-isasi, instagram-isasi, dan sebagainya. Alhasil, dunia nyata pun kosong-melompong, tempat peribadatan ambruk lantaran kosong jarang ditempati. Ironis.
Opohdernitas adalah suatu keadaan yang “seolah-olah” di tengah terjadinya modernitas atau modernisasi. Terdiri dari kata “opoh” yang berasal dari kata “apa” dalam ejaan Jawa, dan “dernitas” yaitu imbuhan atau plesetan sekedar pelengkap saja sebenarnya, tidak lebih.  Hheuheu

#Opohdernitas itu misalnya begini :

Ada kalanya kita merasa ada pada tingkat kejenuhan, & kita bingung melakukan apa, lalu kemudian larilah kita ke social media. #opohdernitas
#opohdernitas adalah keadaan dimana kenyataan menjadi sangat berlebihan, filsuf menyebutnya kondisi hiperealita.
#opohdernitas adalah gambaran kekacauan, kelalu-lalangan gaya hidup masyarakat di era yang serba tidak masuk akal!
#opohdernitas adalah ketika laki-laki memutuskan bunuh diri lantaran putus, ceweknya selingkuh dengan laki-laki lain.
#opohdernitas adalah ketika pengguna socmed mencaci maki socmed lantaran banyak postingan gak bermutu, lalu caciannya ia posting juga.
Anehnya, kemarin bilang postingan di socmed udah gak ada yang bermutu tapi dia tetap aktif di socmed. #opohdernitas
#opohdernitas adalah ketika pagi-pagi mengeluh lantaran gak ada yang ngucapin selamat pagi.
#opohdernitas adalah ketika malam hari mau tidur mengeluh lantaran gak ada yang ngucapin selamat malam dan selamat tidur.
Sial Hape-ku gak bisa BBM’an!, So what ? toh kita masih tetap bisa komunikasi, meski tanpa menggunakan BBM. #opohdernitas
#opohdernitas itu ketika hujan-hujan rombongan Presiden lewat kemudian anak2 sekolah disuruh menyambut di sepanjang jalan.
#opohdernitas itu ketika manusia pada berdo’a di Socmed kemudian tempat ibadah dekat rumah malah sepi. Ckck
#opohdernitas itu ketika capres/caleg yang katanya low profile tapi muncul berkali-kali di media. hhihihi
Parah #opohdernitas-nya ketika capres-cawapres kampanye pake cara jadi bintang sinetron.
#opohdernitas banget, cewek cantik kok parameternya kawat gigi, softlens, sama Blackberry. :p
#opohdernitas adalah ketika musim bencana, lalu masyarakat mendadak sok peduli dgn alam, padahal besoknya pada buang sampah sembarangan lagi.
#opohdernitas yaitu saat musim banjir yg disalahin terus cuma pemerintah, lah masyarakatnya juga pada buang sampah sembarangan.
#opohdernitas itu remaja yang sakit hati gara-gara pacaran terus ngebunuh teman/pacarnya sendiri. Ckck
#opohdernitas itu banyak orang yang meniru-niru gaya hidup orang2 yang ada di televisi. #televishit
#opohdernitas itu ketika ada pesawat MH370 hilang, terus masyarakat di dunia pada minta tolongnya ke Dukun. #DUKUNESIA


*Tulian ini bersambung, setiap ada ide tulisan ini pasti dikembangkan (lag). hheheu

Share:

Senin, 30 September 2013

Menulis Puisi (lagi)



Rembulan di Hujan semalam

Seperti ada diantara bukit dan langit
Hasrat dan keinginan saling melejit
Kabut penuh sesak di sekitar pelukku – pelukmu
Badai sesekali mengintai, tiada hirau
Dan angan-pun kian parau

Seperti ber-metamorphosa dalam kejumudan
Percik cahaya rembulan kian tersapu hujan

Harap nun perlahan tenggelam
Tapi  ini keajegan dalam suatu malam
Membuat samar setiap bayangan
Menghapus cerita kemudian kerna hujan
Duh rembulan!
Dengan apa kulanjutkan
Cerita semalam..

(Gang Enggano, 30 Sept 2013)
Share:

Nepotisme & Gratifikasi



Penyakit tak Disadari?
Indonesia tanah airku, tanah beli, air juga beli… (Harry Roesli)

Barangkali salah satu ciri dari Negara yang subur adalah semakin tumbuh subur dan menjamurnya para pelaku korupsi, kolusi dan juga nepotisme (KKN). Parahnya, mereka pelaku KKN tetap dibiarkan hidup dan berkembang terus - dari waktu ke waktu. Adanya relasi, koneksi dan entah apa lagi istilahnya – menjadi syarat mutlak bagi manusia-manusia yang ingin bertahan hidup di era koruptorisasi ini. Huh!
Bukan pembangunan di segala bidang, tetapi justru korupsi di segala bidang yang terjadi di Negara Indonesia Raya tercinta nan cantik jelita ini. Tantangannya adalah rasa bosan ketika membahas isu korupsi, sepertinya begitu, karena saking banyaknya koruptor di negeri ini. Begini saja, mari kita bicarakan tentang nepotisme dan gratifikasi saja, yang agaknya (mungkin) masih jarang dibicarakan. Hheuheu…

Nepotisme ; Penyakit Sistemik

Siapa yang mendapatkan kesejahteraan dari adanya nepotisme? Tentu saja seluruh anggota keluarga pelaku nepotis-nya. Dahulu, keluarga Almarhum Presiden Soeharto misalnya. Kalau saya diperkenankan untuk mencari kambing hitam dari maraknya nepotisme di negeri ini, sepertinya keluarga cendana-lah yang pantas untuk dikambing hitamkan. Karena telah berhasil mengajarkan trik-trik mengimplementasikan perilaku nepotis di negeri ini, hingga sekarang. Atau barangkali ada orang lain yang pantas untuk dikambing hitamkan – selain almarhum Soeharto?

Hidup di jaman sekarang harus sok kenal-sok dekat- sok akrab, memang!. Supaya semua urusan mudah. Saat anda ditilang sama Polantas, bilang saja anda saudaranya pejabat X – misalnya, pasti urusan tilang lancar. Saat anda memasukkan lamaran kerja, bilang saja anda keponakannya Pak Rektor atau Pak Dekan X, niscaya peluang diterima kerjanya sekitar 80 - 90%. Di bidang atau lembaga lainnya pun demikian. Jadi jangan heran kalau anda tahu - misalnya di perusahaan A ternyata antara manager dengan HRD kakak beradik, atau misalnya di kampus B ternyata antara Dekan dan Kajur saudaraan, adiknya di bagian staf akademik, dan anak-anaknya yang jadi mahasiswanya. Miris!

Gratifikasi ; Penyimpangan tak Disadari                              

Ada kemungkinan masih terdengar asing dengan istilah Gratifikasi. Dalam Peraturan Mendikbud No.51 Tahun 2003 Tentang Pengendalian Gratifikasi di Lingkungan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Pasal 1 ayat 2 tertulis : “Gratifikasi adalah pemberian uang, barang, rabat (discount), komisi, pinjaman tanpa bunga, tiket perjalanan, fasilitas penginapan, perjalanan wisata, pengobatan cuma-cuma, dan fasilitas lainnya.” Kemudian di pasal 1 ayat 3 diperjelas dengan : “Gratifikasi dalam kedinasan adalah hadiah/fasilitas resmi dari penyelenggara kegiatan yang diberikan kepada wakil-wakil resmi suatu instansi dalam suatu kegiatan tertentu sebagai penghargaan atas keikutsertaan atau kontribusinya dalam kegiatan tersebut.”
…………………..

Jadi, kalo gak ngapa-ngapain terus kemudian dikasih hadiah, jelas itu namanya Gratifikasi!. Gratifikasi itu mengarah ke kolusi, kalau menjadi kebiasaan dan terjadi kesepakatan. Misalnya, saat ada warga yang membuat surat-surat di kelurahaan. Warga tersebut memberikan hadiah berupa sarung, misalnya – kemudian diterima oleh petugas kelurahaan, maka itu Gratifikasi namanya. Dan jika warga berbisik, “lain kali kalau anggota keluarga saya mau mbikin surat-surat juga tolong jangan dipersulit ya Pak/Bu…!”, nah yang ini sudah mengarah ke kolusi.

Untuk konteks lembaga pendidikan-pun sering terjadi. Jelas-jelas mengajar itu sudah kewajiban pengajar, guru atau dosen. Jadi, sebagai siswa, mahasiswa atau orang tua dari siswa – mahasiswa tidak usah memberikan hadiah kepada pengajar, guru atau dosen tadi. Itu-pun Gratifikasi namanya. Apalagi memberikan hadiah dalam rangka mengharapkan mendapat nilai pelajaran yang bagus. Satu lagi, tentang tugas pengganti - biasanya. Karena absensi kurang, tugas belum mengumpulkan kemudian siswa/mahasiswa meminta tugas pengganti yang lain, misalnya diganti dengan dibelikan buku, makanan, buah-buahan, baju dan sebagainya. Kira-kira yang seperti ini apa namanya??? Nyatanya seringkali manusia melakukan penyimpangan, tanpa disadari yang saya sebut Gratifikasi tadi. Hheuheu… [A.S] J

Share:

Kamis, 16 Mei 2013

Politik dan Dukun'isme

Pemilihan Dukun Sakti
Oleh : Tino Achmad Saptono[1]

Demokrasi iku bebas
 Acara pemilihan ning ndi-ndi pasti sing diutamanange yaiku pesta demokrasine. Dakate lagi jaman bengen sih sing ngawiti ana demokrasi kuh ning jagate kompeni, tapi lawas selawaseng dina, Indonesia melu mupu demokrasi nggo acara pilian kien pilian kuwun lan pilian sejene. Maksude mekenen, dadi arepan mili pemimpin apa bae ya pasti ngenggo sistim demokrasi.
Bokat ana sing durung patia paham karo demokrasi. Demokrasi kuh lamon jere elmu itung-itungan sih arane memper-memper kaya rumus. Rumus kanggo ngurus priben carae milih uwong - sing kira-kira pantes dadi pemimpin, mekonon kurang luwihe. Ciri-cirie demokrasi bisa katon sing blak-blakan utawa belie, bebas lan jujur utawa belie, lamonan jere wong jawa sih maninge - ana sogok-sogokan utawa belie, ana uwong bagi-bagi angklop lan gula teh utawa belie.<!–more–>
Gampangane, baka ana mekanan-mekenen kaya sing disebutnang mau, berati kuwun kuh sing diarani demokrasine wis diperkosa. Salah sawijineng cirie demokrasi iku kan katon sing kono, baka ana pengaruh (omongan blenak; blesak) setitik bae mblesaknang wong sejen, nah kuwun geh arane kotor kuh demokrasine.
Dudu pemilian ketua RT, RW/Kepala Dusun, utawa pemilian Kepala Desa bae – pemilian Presiden, gubernur lan sejene geh pada bae ora bisa ucul saking sistim demokrasi mau. Tujuan dianaknange pemilian, - sewerue kita – nggo ngulati pemimpin, dudu ngulati dukun sing paling sakti. Nah, ning kene kih ana sing kudu dilurusnang. Masa iya, baka pas ana pilian apa mbuh apa, rayate kok malah puyeng-puyeng ngulati dukun sakti, wong kuwalik!!!

Gawe rencana strategis, aja luru dukun!
Jagat wis gemebyar padang lunangan, jere boca sekolah sih jagat wis modern, tapi kenang apa wong mikire masih kaya jaman bengen bae. Baka iya pada nduweni elmu agama, sabenere sih sing pasrah lan percaya bae karo “sing ning nduwur”. Aja kuwun sih calon legislatif, calon bupati, calon camat, calon kuwu lan sejene kok pada mobat-mabit ngulati payunge dukun, korsie dukun, selendang, klambi lan sejen-sejene. Ari jare kita sih, daripada waktue kebuang nggo sing mekonon-mekonon, masih mending nggo mikir gawe visi-misi, gawe rencana program kerja utawa nggo persiapan bokat besuk pas kepilih dadi pemimpin kang dimaksud.
Lamon jare bahasae pejabat-pejabat sih, masih mending waktue dinggo kanggo gawe rencana strategis, aja kanggo luru dukun. Nanging yaiku sih, sing arane jagat Indonesia kuh kentel pisan karo tethek bengek sing bli nyambung ning akal pikirane wong waras. Arepan nyalonnang dadi pemimpin jeh nyalatan keder luru watu sakti, luru teken (tongkat) sakti, aduh wis ora peta-peta!!

Pemilu, milih dukun sing paling sakti
Bisnis, mekaya utawa molah sing bisa gawe kegembang wong pirang-pirang pas usum pilian yaiku mekaya dadi dukun. Titennana maning. Baka pas usum pilian apa bae, pasti akeh dukun pada pating trongol. Ndadhak-ndadhak ana dukun sing bisa mekenen lah, bisa mekonon lah. Ana-ana bae tingkae wong luru pangan.
Baka jagate lagi usum pilian, dukun kaya raja – sing nduwe kepenginan apa bae langsung dituruti kenang si calon utawa bakal calon. Pada kepengin dadi dukun tah beli wong? Nanging kudu dadi dukun sing (kaya iya-iya’a; seolah-olah) sakti. Sakti utawa belie bisa dikatonnang sing udud, kopi ireng, pakean, cincin lan sejene. Gampang kan?
Arane bae geh dukun. Baka ana wong takon apa mbuh apa ya pasti dijawabe sing serem-serem, sing beli-beli kah. Masa iya, ana wong takon cara mbari bisa menang nyalonnang jeh nyalat dikongkon marani makam. Wis weru wong ning makam kuh wis pada mati, priben arepan nulungi wong coba? Sapa weru wong-wong sing wis pada selonjor ning jero makam kah asline mah lagi pada rubungan – diajak diskusi kenang malaikat.
Dudu Cirebon arane (kaya-kaya sih) baka bli gawa-gawa dukun. Kitae dewek sering ndeleng langsung, ana dukun lagi kebal-kebul nongkrong ning pinggiran tarub TPS – apa maning tarub TPS pilian kuwu (kepala desa). Biasae ning balai desa ana tarub nggo ndodhoke calon kuwu, titennana pas bengi sedurunge penyoblosan pilian kuwu, biasae akeh kebal-kebule ning menyan, mambu kembang, akeh godhong-godhongan lan sejene, nyenyuker bae kah.
Wayae lagi pilian, nyalat sibuk luru dukun sing paling sakti, ari jare kita mah benere kuh sibuke sibuk mikir rencana nggo mbangun arep kepriben?!. Sibuk takon-takon kepenginane rayat kuh apa?, keluhane rayat apa? kuh mekonon benere jare kita mah. [ ]


[1] Penulis adalah pelanggan warung kopi depan gedung kesenian rarasantang – Cirebon.
Share:

Jumat, 25 Januari 2013

Cerpen : Janda di Dada aing



Janda di dada aing!
Oleh : Tino Achmad Saptono*

Aku pria 22 tahun yang baru saja lulus kuliah tahun lalu, namun sekarang sudah beristri dan beranak 4 (empat). Keempat anak itu perempuan, tapi bukan darah dagingku sendiri. Ya, benar sekali dugaan anda sekalian, aku memang menikahi seorang janda usia 37 tahun. Konon kabarnya, istriku menyandang gelar janda karena dulu almarhum suami istriku itu meninggal akibat serangan penyakit diabetes.

Banyak yang bilang aku ini bego, tolol dan kawanannya – karena aku yang seorang sarjana ekonomi kok mau-maunya menikahi janda beranak 4 (empat). Tapi setidaknya di tulisan ini aku mau jelaskan alasanku kenapa mau menikah dengan seorang janda. Oh iya, istriku bukan termasuk janda kaya lhoh ya…

Kali pertama aku ketemu sama istriku yang pintar berdandan itu, di warung kopi tempatnya. Sedari almarhum suaminya masih hidup sampai menjadi janda, istriku itu dulu memang membantu suaminya mencari nafkah dengan membuka warung kopi. Warung kopi yang buka dari jam 06 pagi sampai jam 08 malam bahkan kadang sampai jam 09, ketika malam tertentu (malam minggu misalnya).

Share:

Minggu, 30 Desember 2012

Semua Tentang Tikus!



Ini Tentang TIKUS
Oleh : Achmad Saptono

Dunia sedang kacau. Jambret masuk desa, rampok masuk ruang guru, maling masuk tempat-tempat ibadah. Parahnya lagi, ada pencuri yang setiap waktu sering mencuri namun tetap dibiarkan begitu saja. Mereka, Pencuri kebudayaan. Pencuri kedaulatan, pencuri persatuan. Pencuri kesetiaan, pencuri kasih sayang. Dan, adalah saya pencuri hati wanita.
Share:

Sabtu, 10 November 2012

Puisi : Darah, Sperma & Politik

Darah, Sperma dan Politik


Tubuhnya lunglai usai ditiduri
Ia tak sempat berpikir
Siapa dan apa jabatan yang menidurinya
Demi makan esok hari
Untuk senyum anaknya di pagi hari
Tubuhnya terkulai
Tak sempat berpikir
Panas tidaknya uang dari pemilik sperma, malam itu...

Yang ia tahu
Lelaki buncit itu menungganginya dalam keadaan mabuk separah-parahnya
Sambil bercakap lewat seluler
Tentang anggaran kapanye
Tentang koalisi, korupsi dan tentang pembangunan
Untuk kesejahteraan, katanya

Percakapan berputar tentang aib
Tentang dosa di perpolitikan
Dini hari
Saat lelaki buncit mulai sadar
Ia berbisik mesrah di telinga Sumiati
Kuda birahinya kala itu

"Kau dengar semua percakapanku? Apa?"

Door..!!

Tangan kiri lelaki buncit merogoh pistol
yang tergeletak di samping jeans
di atas meja, dekat ranjang merah marun
Dari atas perut bagian kanan
Darah segar Sumiati basahi Sprei kamar 224.


*Catatan Oktober/Cirebon
Share:

Senin, 20 Agustus 2012

SAJAK: Ketidakteraturan

Ketidakteraturan

Semesta bertanya pada manusia
Apa kabar suara hati sanubari
Masihkah terperangkap dalam gelap
Sementara cerah lebih dulu menjemput

Dan bila rasa kini tiada
Barangkali akan hilang suatu mimpi
Akan melebur dalam bayang-bayang
Lalu tercipta alam tanpa keteraturan

Duhai para pemuja alam bawah sadar
Berhentilah menjadi musabab pertikaian
Karna semesta tlah kering air mata
Dan ketidakteraturan adalah siklus perbuatanmu


-21.52 WIB/19 Agustus 2012-
Share:

Kamis, 16 Agustus 2012

Cerita Bocah


“PENGEJAR MIMPI”
(Kisah Nyata Anak Laki-laki lulusan SMP yang Ingin Jadi Pemain Bola)

Judul tulisannya udah kaya judul Sinetron Ramadhan yaa... :D
Alkisah terjadi di hari Selasa 07 Agustus 2012, Jam 09 malam Wib. Malam itu aku nongkrong (nongkrong sama siapa-siapanya gak usah di ekspose ah, takutnya malah ngomentarin nongkrong sama siap-siapanya! :p ) menikmati secangkir kopi di warung kopi yang tidak jauh dari Gedung Kesenian Rarasantang-Cirebon. Nongkrongku kali ini demi untuk menepati janji bertemu anggota komunitas Kaskus Cirebon, yang ingin ngajak bikin acara buka bareng anak-anak jalanan di belakang Terminal Harjamukti-Cirebon (Kebetulan aku adalah salah satu partisipan yang seminggu sekali meluangkan waktu belajar bareng anak-anak jalanan itu). Bla...bla..blaa... Singkat cerita, obrolan dengan beberapa anggota komunitas Kaskus Cirebon itu rampung sekitar jam 10 lebih sekian. Dengan hasil : “acara buka bareng anak jalanan di belakang Terminal Harjamukti-Cirebon itu fix diadakan hari Sabtu 11 agustus 2012”. (Makasih Kaskus Cirebon atas partisipasi & beberapa sumbangan buat anak jalanannya... hhehe :*)
Usai itu, aku-pun menenggak habis sisa kopi kemudian bergegas menaiki kuda besiku untuk pulang ke rumah tercinta. Belum ada 1 km kuda besi melangkah, aku mendapati seorang anak lelaki usia belasan di depan SPBU yang tidak jauh dari warung kopi tadi. Ia berjalan dengan menggendong tas yang (kayaknya) didalamnya berisi baju silat atau baju-baju karate (karena aku kira dia baru pulang usai latian silat atau karate). Wajahnya nampak pucat berkeringat, langkah kakinya nampak kelelahan tak tentu arah, entah apa yang sedang ia pikirkan. Melihat dia yang seperti itu, aku menghampirinya kemudian langsung mengajaknya untuk ikut bonceng di kuda besiku. Meski awalnya ia menolak dengan alasan “rumahku dekat mas, itu di depan situ”, tapi setelah aku bujuk “gak apa-apa biar kuantar, aku sekalian pulang ke arah yang sama”, akhirnya ia-pun mau.
Baru saja ia duduk di atas kuda besiku yang mulai melangkah pelan, aku memulai obrolan dengan bertanya padanya “habis dari mana Mas?”, “... habis Sekolah Bola”, jawabnya gugup. Samar-samar aku dengar jawabannya, karena takut salah dengar, lalu aku tanyakan lagi “habis dari mana Mas?”, kali ini jawabannya terdengar cukup tegas “habis nyari sekolah Bola Mas...”. Mendengar jawaban itu, sontak saja aku kaget kemudian menimpalinya “Ooh.. kirain abis latian silat atau karate, lhah terus udah nemu kan Sekolah Bolanya?”, seolah tanpa jedah ia-pun menjawab “bukan Mas, Saya sejak maghrib tadi sampe sekarang abis muter-muter di GOR Bima nyari Sekolah Bola, tapi ternyata belum ketemu juga Mas, padahal udah seminggu aku nyari muter-muter”.
Share:
Counter Powered by  RedCounter

Pages

Popular Posts

About Me

Foto saya
Cirebon, Jawa Barat, Indonesia
Seorang Presiden di negara Republik Tinosia

Followers