Oleh : Achmad Saptono
Kenapa menjadi hal yang aneh bagi sebagian masyarakat? Mereka berasumsi ”jangan sok’ idealis!”. Kutipan kalimat itu pernah dilontarkan oleh salah satu guru BP di sekolah SMA Purwokerto. Entah apa yang ada didalam fikirannya, apakah memang idealisme sudah tidak bisa lagi kita terapkan di era globalisasi ini. Yang jelas menurut hemat saya, ketika anda merasa bahwa idealisme itu tidak bisa hidup di era globalisasi maka artinya anda menyerah begitu saja kepada tantangan globalisasi atau sama saja anda tidak mau mencoba untuk mendekonstruksi budaya globalisasi yang semakin menjajah kita itu. Apakah anda sudah merasa puas atau sudah merasa keenakan dengan mengonsumsi produk neolib yang notabene sebagian besar harganya mahal itu? Padahal disisi lain dari segi kualitas produk sebenarnya anda masih mampu untuk memproduksi sendiri.
Saya kira sudah sepantasnya kita (mahasiswa) tetap berpihak pada idealisme, karena kita lah yang mengemban amanah itu. Kaum pendobrak atau agent of change saya pikir sudah cukup mewakili bahwa kita memang seharusnya tetap idealis. Dan ketika banyak orang yang meragukan idealisme itu ada maka untuk membuat mereka tidak ragu lagi adalah perlu adanya pembuktian dari kita sebagai mahasiswa yang tetap idealis dan mahasiswa yang berpihak pada perdamaian abadi seperti apa yang tercantum pada tujuan dari bangsa indonesia. Kalau ada yang masih ragu, baik saya akan mencoba untuk membantu membangun alur berfikirnya. Tentunya anda sepakat bahwa idealis adalah hal yang baik, hanya saja mungkin anda merasa untuk melangkah ke arah idealis itu sangat sulit apalagi di zaman yang sudah semakin modern ini. Nah, simpelnya... kalau anda tidak mau mencoba untuk tetap idealis, bagaimana anda tahu bahwa untuk tetap idealis di zaman modern ini susah. Iya toh??? Selamat merenung...(Noy).
Selasa, 24 Februari 2009
Tags
- all about my mind (43)
- Berbagi (5)
- Mari Merenung (5)
- Mirip Puisi (45)
- Nyeni (8)
- pengalamankoe (5)
- Profil Seniman (2)
- Sejarah (1)
- unek2 (17)
- warning2 (1)
Pages
Popular Posts
-
Janda di dada aing! Oleh : Tino Achmad Saptono* Aku pria 22 tahun yang baru saja lulus kuliah tahun lalu, namun sekarang sudah b...
-
MONOLOG : R E P U B L I K T I K U S Oleh : Achmad Saptono [1] PROLOG : Selamat datang di REPUBLIK TIKUS untuk seluruh warga dari...
-
“Monolog : Homo Homini Lupus” Karya : Achmad Saptono Manusia yang satu adalah serigala bagi manusia lainya. Manusia tidak bertindak sebaga...
-
Anton Pavlovich Chekov lahir di kota pelabuhan kecil Taganrog, Rusia Selatan 29 Januari 1860. Terlahir dari keluarga kelas menengah, beli...
-
Untuk Kawanku, itu Kawanmu Tak perlu kita menjauh Tak semestinya kita acuh Kita manusia punya cinta Punya rasa, tuk peduli sesama Perempuan...
-
Penyakit tak Disadari? Indonesia tanah airku, tanah beli, air juga beli… (Harry Roesli) Barangkali salah satu ciri dari Negara y...
-
Ini Tentang TIKUS Oleh : Achmad Saptono Dunia sedang kacau. Jambret masuk desa, rampok masuk ruang guru, maling masuk tempat-t...
-
“Mensana in Corporesano” Oleh : Achmad Saptono Pemain : Aleksander (Pria Dewasa 40 Tahun) Junos (Supir Truk Sampah 45 Tahun) Pierce (Pemul...
-
Warnetku warnet kita berdua Oleh : Achmad Saptono (Panggil; Tino) "Dunia serasa milik kita berdua, kata-kata indah ini mungkin yang a...
-
Menulis Hasrat atau Berhasrat Menulis! [1] Oleh : Achmad Saptono [2] “Harus ada keresahan dul...
0 comments:
Posting Komentar