Oleh : Achmad Saptono
Penyakit pemikiran yang menyerang jantung pendidikan di Indonesia, pragmatisme menyerang bagai racun yang terus menjalar ke seluruh fikiran masyarakat Indonesia. Era 1980-an banyak pejuang islam yang identik dengan kajian-kajian filsafat keislamannya baik teologis, epistemologis, aksiologis dan lain-lain. Akan tetapi sangat disayangkan ternyata tradisi seperti itu mengalami keterputusan transformasi kepada pejuang (umat) islam saat ini.
Jangan heran kalau akhir-akhir ini sering sekali terjadi konflik antarumat islam atau juga konflik antarumat agama lain, karena bisa jadi hal tersebut dikarenakan masyarakat pada saat ini berfikir lebih singkat atau yang saat ini sering kita interpretasikan dengan istilah pragmatis. Terkadang berfikir pragmatis adalah sama saja menuruti hawa nafsu yang sesaat, tanpa berfikir panjang apa sebab serta akibat dari hal yang telah diputuskan dalam waktu yang singkat itu.
Filsafat adalah berfikir, seseorang bisa dikatakan berfilsafat ketika ia sudah mau menyita waktunya untuk memikirkan sesuatu. Nah, yang menjadi permasalahan pada saat ini ketika sudah semakin sedikit saja orang-orang yang mau menyita waktunya untuk memikirkan sesuatu, mereka cenderung lebih berorientasi ke hal-hal yang praktis. Suatu contoh kecilnya adalah adanya produk makanan/minuman dalam kemasan instant seperti mie instant, soft drink yang membuat masyarakat indonesia menjadi beralih dari makanan-makanan tradisional yang notabene memerlukan waktu lebih untuk membuat atau menyajikannya. Memang hal seperti ini tidak begitu dirasakan oleh masyarakat, namun justru proses itulah yang akhirnya mengkonstruk pola pikir masyarakat Indonesia menjadi berfikir pragmatis. Kemajuan teknologi dalam berbagai media di Indonesia yang akhirnya dapat memudahkan masyarakat untuk mendapatkan berbagai macam informasi dari Negara lain. Hal-hal demikian lah yang kemudian mampu meninabobokan masyarakat Indonesia secara keseluruhan tanpa kecuali. Masyarakat Indonesia yang hanya bisa mengekor kepada bangsa lain, tidak punya pendirian yang kuat. Lalu kapan bangsa indonesia bisa lebih maju? Bisakah bangsa indonesia lebih kreatif daripada bangsa lain? Mampukah bangsa indonesia menciptakan lapangan pekerjaan dan tidak mencari lapangan pekerjaan lagi??? Saya yakin itu semua bisa terwujud andaikata kita mampu membumihanguskan penyakit pragmatis tersebut. (Noy).
Selasa, 24 Februari 2009
Tags
- all about my mind (43)
- Berbagi (5)
- Mari Merenung (5)
- Mirip Puisi (45)
- Nyeni (8)
- pengalamankoe (5)
- Profil Seniman (2)
- Sejarah (1)
- unek2 (17)
- warning2 (1)
Pages
Popular Posts
-
Janda di dada aing! Oleh : Tino Achmad Saptono* Aku pria 22 tahun yang baru saja lulus kuliah tahun lalu, namun sekarang sudah b...
-
MONOLOG : R E P U B L I K T I K U S Oleh : Achmad Saptono [1] PROLOG : Selamat datang di REPUBLIK TIKUS untuk seluruh warga dari...
-
“Monolog : Homo Homini Lupus” Karya : Achmad Saptono Manusia yang satu adalah serigala bagi manusia lainya. Manusia tidak bertindak sebaga...
-
Anton Pavlovich Chekov lahir di kota pelabuhan kecil Taganrog, Rusia Selatan 29 Januari 1860. Terlahir dari keluarga kelas menengah, beli...
-
Untuk Kawanku, itu Kawanmu Tak perlu kita menjauh Tak semestinya kita acuh Kita manusia punya cinta Punya rasa, tuk peduli sesama Perempuan...
-
Penyakit tak Disadari? Indonesia tanah airku, tanah beli, air juga beli… (Harry Roesli) Barangkali salah satu ciri dari Negara y...
-
Ini Tentang TIKUS Oleh : Achmad Saptono Dunia sedang kacau. Jambret masuk desa, rampok masuk ruang guru, maling masuk tempat-t...
-
“Mensana in Corporesano” Oleh : Achmad Saptono Pemain : Aleksander (Pria Dewasa 40 Tahun) Junos (Supir Truk Sampah 45 Tahun) Pierce (Pemul...
-
Warnetku warnet kita berdua Oleh : Achmad Saptono (Panggil; Tino) "Dunia serasa milik kita berdua, kata-kata indah ini mungkin yang a...
-
Menulis Hasrat atau Berhasrat Menulis! [1] Oleh : Achmad Saptono [2] “Harus ada keresahan dul...
0 comments:
Posting Komentar