"Sekadar umpatan yang tersimpan dalam barisan kata"

Jumat, 03 Juni 2011

Tentang Hidup


Hakikat Hidup

Cantik, menarik
Tampan, menawan
Tak ada pembedaan
Itulah penciptaan
Kekurangan adalah salah satu kelebihan
Kelebihan adalah salah satu kekurangan
Yang penuh pertimbangan
Tidak serta merta tanpa alasan
Karna Dia-lah yang punya hidup dan matinya Manusia
Dunia serta akhirat sudah tersirat dalam diary-Nya
Kita hanya hamba yang menjadi aktor dalam cerita-Nya
Syukuri-lah hidup ini dengan penuh ikhtiar untuk mendapatkan Cinta-Nya
Karna hakikat hidup adalah atas kuasa Cinta dari Yang Maha Esa

"Purwokerto, 03 Juni 2011" 
 
 
Sebersit Senyum dari Sang Rembulan

Gumpalan awan cerah tersenyum menawan
Bak peluru senapan ia melesat menembus ketiadaan harapan
Lembut aura nan tenang berhamburan
Menghujam kalut serta resah di selaksa pikiran

Dari celah keheningan ia mencuri perhatian
Ia menari di antara gelap membakar keputusasaan
Secawan kasih sayang ia tumpahkan tepat di kegelisahan
Hingga mabuk semabuknya menyelami malam kala hujan

"Purwokerto, 03 Juni 2011"

Share:

Kamis, 26 Mei 2011

Naskah Teater

“Mensana in Corporesano”
Oleh : Achmad Saptono


Pemain :
Aleksander (Pria Dewasa 40 Tahun)
Junos (Supir Truk Sampah 45 Tahun)
Pierce (Pemulung 25 Tahun)
Ranti (Ibu Muda pemulung 21 Tahun)
Evan (Anak Pemulung 3 & 18 Tahun)
Tania (Karyawan Pabrik 27 Tahun)

(Panggung sepi, seorang Pria Dewasa (40 tahunan) Aleksander yang dulu bernama Pierce dengan pakaian jas hitam mewah, duduk di depan TV, menonton berita tentang semakin meningkatnya pemulung dan pengais sampah di suatu daerah, kini sahamnya dimana-mana, pabrik, dan perusahaan-perusahaan yang dikelola oleh orang lain (karyawannya), ia hanya duduk di rumah menunggu menerima uang penghasilan saja)

Aleksander :
Hidup yang sehat adalah hidup sepertiku saat ini, jauh dari tempat-tempat kumuh. Aku ingin ini ada yang mengantar, aku ingin itu ada yang menyiapkan. Aku butuh apapun tinggal bilang, dengan mudahnya pelayan-pelayanku yang akan menyediakannya. Aku merasa sehat di dalam negara yang tidak sehat. Ah berita itu...tempat tinggalku di masa lalu... aaargh....
(Aleksander meninggal, lighting black out)
Share:

Selasa, 24 Mei 2011

Buku ke Internet


Zaman Peralihan “Jendela Dunia”[1]
Oleh : Achmad Saptono[2]

“Aku lebih suka mencari bahan bacaan atau materi untuk tugas kuliah dari situs-situs yang tersedia di internet ketimbang mencari dari buku”, ungkap seorang mahasiswa Ekonomi (pen.) di perguruan tinggi negeri yang ada di Purwokerto.

Saya kira hal tersebut bukan hanya dirasakan oleh satu-dua orang mahasiswa saja, tetapi hampir secara keseluruhan mahasiswa saat ini, untuk urusan bahan bacaan atau materi tugas perkuliahan sudah beralih orientasi mencari ke dunia maya (internet). Memang sudah tidak bisa dipungkiri lagi betapa cerdasnya “Paman google” sebagai situs mesin pencari di dunia maya. Dengan menuliskan kata perintah apa saja sesuai dengan keinginan di google, maka ribuan bahkan mungkin jutaan artikel yang diinginkan-pun langsung muncul hanya dalam hitungan waktu sepersekian detik. Bukan hanya google yang saat ini sudah diakui kehebatannya, masih banyak situs-situs lainnya yang menyediakan berbagai macam artikel – yang seringkali dibutuhkan dan sering dikunjungi oleh mahasiswa saat ini. Sebut saja beberapa situs terkenal seperti : Wikipedia, Scribd, Indoskripsi, Kompas, Tribunnews, Detik, Tempo Interaktif, JPNN, Yahoo dan masih banyak situs lainnya yang menjadi halaman favorit pada saat mahasiswa sedang pusing mencari bahan bacaan atau materi tugas perkuliahan.
Share:

Tentang Menulis

Keresahanku adalah Bingung ingin berkata apa? Tuliskan saja lah!
Oleh : Achmad Saptono

“Harus ada keresahan dulu sebelum pentas atau sebelum berkarya, termasuk menulis, kalau tidak resah ya harus dicari keresahan itu. Kalau merasa tidak resah, berarti ada yang salah dengan kepedulian atau kepekaan kita”
Suatu sore yang cerah. Dheas mahasiswa Sosiologi semester 5 di Universitas Negeri Purwokerto (UNP), usai Ashar ia melaju dengan honda bebek menuju kosan Balqis teman satu jurusan dan teman satu angkatannya. Semangat 45 Dheas menghipnotis laju kendaraan yang ia tunggangi seolah kesetanan. Hanya membutuhkan waktu 5 menit untuk menempuh kosan Balqis, yang jaraknya 2 Km dari rumah Dheas. Sesampainya di depan pintu kosan Balqis, Dheas mendapati pintu kosan itu tertutup rapat dengan gembok yang menggantung. “Ah, sial! Kenapa Balqis gak ada di kosan? Pasti dia lagi nongkrong di sekre nih...” gumamnya dalam hati. Tanpa pikir panjang, Dheas langsung menuju sekretariat UKM. Seperti dugaannya, Balqis sedang asik berdiskusi dengan teman UKM-nya di ruang sekretariat.
Share:

SiAnak, Theatre Of Change


Theatre Of Change[1]
(Teater SiAnak : Sebuah pertunjukan yang tidak bebas nilai)
Oleh : Achmad Saptono[2]

“Layaknya ember tanpa air, layaknya gunung tanpa pepohonan, layaknya berjalan tanpa tujuan, layaknya motor tanpa bahan bakar, layaknya pertunjukkan teater SiAnak tanpa isu yang disampaikan!” Kurang lebih seperti itu saya memahami SiAnak sebagai salah satu pertunjukkan teater kampus yang tidak bebas nilai!!!

A.     Tentang Teater Kampus
Dulu pertama kali masuk kuliah, pernah saya mendefinisikan bahwa teater adalah tempat sampah, bahwa teater adalah tempat orang-orang yang tidak waras, teater adalah tempat nongkrongnya mahasiswa-mahasiswa yang akan lulus lama, mahasiswa malas, mahasiswa urakan. Pokoknya, banyak sekali definisi yang saya pikirkan tentang apa itu teater kampus dan sampai sekarang belum ada referensi pasti yang menjelaskan tentang definisi teater kampus. Meskipun demikian, satu hal yang harus diingat bahwa bagaimanapun juga teater kampus jelas berbeda dengan teater komunitas non-kampus (umum). Kenapa berbeda? Di bawah ini akan coba saya jelaskan dengan bagaimana pentingnya peranan teater kampus dalam kehidupan sosial.
Share:

Senin, 23 Mei 2011

Refleksi 21-22 Mei


Laki-laki Gelap di Sudut Jendela

Ayo berlari...
Laki-laki itu berteriak
Bukankah cahaya itu indah
Tak usah takut
Di sana, aku sudah menyiapkan bekal untukmu
Penghilang lapar dan dahaga

Ayo tersenyum...
Laki-laki itu merayu
Bukankah masa lalu tak kan terulang
Tak usah sedih
Aku akan mengajakmu agar selalu bernyanyi
Menghapus gelap masa lalumu

Tidak usah terlalu kau pikirkan gelapmu itu
Karna masih banyak gelap lain yang belum kau jamah
Di jendela itu, di balik gorden itu
Kamu boleh sesekali mengintip gelap
Asalkan jangan terlalu lama

Tempat tidurmu
Selimut dan dinding itu
Mereka yang menghantarkanmu menciptakan mimpi
Mulailah rangkai mimpimu
Ini kali aku akan bantu membingkai mimpi-mimpimu

Dirangkulnya wanita itu
Menuju malam

Laki-laki gelap itu
Pemuda dengan dada lebam menghitam
Perlahan melucuti gaun wanita
Tak sehelai kain-pun tersisa
Dengan nafas terengah ia menikmati gelap di antara selangkangan
Mereka saling menikmati
Mereka larut dalam kenikmatan
Dada yang hitam lebam tak ia hiraukan
Semakin memar..
Darah lebam dalam dadanya semakin menggumpal

Saat itu, menjadi malam tersembunyi
Tanpa sadar malam itu semakin melengkapi kegelapan wanita
Semakin membuat luka lebam menghitam di dada laki-laki kian menjadi

Saat esok tiba
Tampak wajah murung wanita menatap dinding kamar
Sementara laki-laki gelap di sudut jendela
Mengawasi setiap langkahnya
Setiap tarikan nafasnya

Laki-laki gelap di sudut jendela
Lukanya terbalut syahwat
Tertutup birahi dunia

“220511”

Cobaan

Bismillah...
Mengelus dada...
Ya Allah
Astaghfirullah
Lagi
Bukan bertanya
Apalagi menghujat
Ini cobaan atas kehendak-Nya
Ini anugerah penuh hikmah
Syukuri, lalu hadapi saja

“210511”
Share:

Senin, 02 Mei 2011

Refleksi MayDay

MayDay, aksi refleksi semua diri


Ada yang bangga, Ada yang merasa berduka
Ada yang tertawa, Ada yang merasa resah
Ada yang menjajah, Ada yang dijajah, Ada yang merasa terjajah
Semua bermain peran
Ada yang sadar peran, Ada yang tidak sadar peran
Mereka mengenang, lalu terbayang
Ini saatnya untuk kita menentang
Mereka mengenang, lalu senang
Ini saatnya untuk kita pura-pura tercengang
Buruh pahala, buruh dosa, buruh tinta, buruh ketawa
Buruh tani, buruh pabrik, buruh politik
buruh berita, buruh air mata, buruh tinja
Dan buruh-buruh lainnya
Siapa sebenarnya mereka?
Buruh adalah mereka, Mereka adalah kita semua, Kita semua adalah buruh
Buruh migran dan buruh rumah tangga, korban kemiskinan
Buruh pendidikan, korban kebodohan
Ada buruh, ada pemerintah
Ada yang slalu disuruh dan diburu, ada yang selalu memerintah
MayDay bukan ritual, bukan pula seremonial
MayDay, aksi refleksi semua diri


“Minggu pagi, 09.35 WIB/01052011”
Share:

Rabu, 23 Februari 2011

Mari merenung


Pagi Ini Aku Kembali Tertampar oleh Renunganku

Mendengarkan Al-Qur’an berarti mendengarkan Allah; mendengar menjadi melihat, melihat menjadi mendengar, pengetahuan menjadi tindakan, tindakan menjadi pengetahuan – itulah “mendengarkan yang baik dan benar (Abu Hafs Omar Suhrawardi).

Jam di handphone menunjukan waktu pagi pukul 04.33 WIB, setengah sadar aku berjalan menuju tempat wudhu lalu berhenti sejenak sampai nyawaku merasa benar-benar terkumpul. Setelah mengambil air wudhu lalu sholat subuh dilanjutkan dengan membaca Al-Qur’an. Kali ini Q.S At-Taubah yang aku baca, surat Makkiyah tersebut aku baca karena yang aku ingat akhir-akhir ini banyak sekali tindak kekerasan antarumat beragama yang mengatasnamakan Jihad, dan aku pikir semua tentang Jihad termaktub dalam surat yang aku baca tersebut. Seingatku, dulu pernah seorang Ustadz menyampaikan bahwa surat tersebut diturunkan pada Zaman Rasulullah Muhammad SAW. Saat itu sedang terjadi perang besar-besaran antara umat Islam dengan orang-orang kafir di Mekah, saat dimana umat muslim waktu itu sedang benar-benar diserang habis-habisan. Bagaimana tidak, pada saat itu jika diketahui ada seorang keluarga muslim yang akan melahirkan anaknya maka anak tersebut tidak akan segan-segan dibunuh oleh orang-orang kafir.
Kejam memang, pembantaian besar-besaran terjadi dalam kubu umat muslim kala itu. Nah, karena alasan dan untuk menjawab persoalan saat itu akhirnya Q.S At-Taubah diturunkan dengan tanpa bacaan basmalah. Surat tersebut dianggap sebagai tanda genderang perang yang isinya memerintahkan kepada umat muslim untuk memerangi orang-orang kafir saat itu. Simak saja Q.S. At-Taubah ayat 73 yang artinya :
“Hai Nabi, berjihadlah (melawan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu, dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka ialah jahannam. Dan itu adalah tempat kembali yang seburuk-buruknya.”
Setelah selesai membaca Al-Qur’an, aku pun sejenak merenung. Teringat kejadian akhir-akhir ini yang menimpa umat muslim di Indonesia bahkan mungkin di dunia. Setelah penyerangan terhadap warga muslim di Palestine, kemudian penyerangan jama’ah Ahmaddiyah di Cikeusik, Pandeglang-Banten, dan disusul dengan kekerasan serupa yang terjadi di Temanggung. Saat aku teringat berapa korban jiwa yang terbunuh, akupun ingat beberapa waktu lalu dimana telah terjadi pengeboman bunuh diri di tempat-tempat (yang dianggap) maksiat, yang dilakukan oleh kawanan teroris yang mengatasnamakan Jihad. “Jihad memerangi orang-kafir dengan cara (membunuh) itu kan dilakukan kalo konteksnya dimana Islam sedang benar-benar kepepet diserang oleh mereka para orang-orang kafir, tapi kalo tidak ya...kan banyak Jihad dengan cara lain, hhmm... andai mereka benar-benar memahami isi ayat-ayat dalam Al-Qur’an”, gumamku dalam hati. Sepengetahuanku dalam Q.S. At-Taubah ayat 20 disebutkan, yang artinya :
Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan.”
Jihad bukan hanya dengan cara membunuh, menyumbangkan harta benda pun bisa dikatakan Jihad. Pukul 05.10 WIB aku beranjak dari ruang sholat menuju tempat tidur, tepat di atas tempat tidur aku lihat rak buku, pandanganku terhenti pada salah satu buku yang berjudul “Mengurai Ayat-ayat Allah, karya Annemarie Schimmel”. Sambil membuka buku tersebut, aku kembali berfikir dan mencoba mengingat-ingat makna Jihad yang dulu pernah disampaikan oleh salah satu dosen di kampusku. Pak Abdul Rohman seorang dosen di kampusku pernah bilang, bahwa : “banyak cara yang bisa dilakukan untuk Jihad dijalan-Nya. Jihad itu bisa berarti :
  1. Berjuang dengan sungguh-sungguh dan sekuat tenaga untuk memperoleh hasil yang diinginkan.
  2. Berjalan di dalam jalan Allah
  3. Berjuang dengan harta, nyawa, utk membela kebenaran
  4. Berperang, memanggul senjata melawan musuh-musuh agama
Kurang lebih seperti itu dosenku memaknai kata Jihad. Jika Ahmaddiyah dianggap menyesatkan karena pernah mempercayai adanya Nabi terakhir setelah Muhammad SAW, itu memang benar. Karena Nabi terakhir dalam Islam tidak lain adalah hanya Rasulullah Muhammad SAW. Tapi, upaya yang dilakukan untuk menyadarkan mereka yang dianggap sesat ini kenapa langsung dengan menggunakan kekerasan. Ini lah yang aku sesalkan.
Buku “Mengurai Ayat-ayat Allah” yang ada di tanganku lanjut aku buka-buka dengan tak beraturan, aku acak lalu berhenti pada halaman 282, pada halaman tersebut penulis buku mengutip tulisan mantan rektor Universitas Al-Azhar – Kairo, Mustafa al-Maraghi :
“Agama sebenarnya tidak mungkin bertentangan dengan kebenaran, dan ketika secara positif diterima kebenaran semua ungkapan ilmiah yang tampak tidak sesuai dengan Islam, ini hanya karena kita tidak memahami Al-Qur’an dan tradisi (sunnah) dengan benar. Dalam agama kita, kita memiliki ajaran universal yang menegaskan bahwa, ketika sebuah kebenaran opodiktik bertentangan dengan teks wahyu, maka kita hendaknya menginterpretasikan teks secara alegoris.”
Ada kata-kata yang menarik dari apa yang disampaikan oleh al-Maraghi di atas, “karena kita tidak memahami Al-Qur’an dan tradisi (sunnah) dengan benar”. Wow.. Memang sangat besar resikonya jika memaknai Al-Qur’an secara parsial, karena Al-Qur’an bukanlah buku Fisika, Biologi atau Matematika yang bisa dipahami langsung dengan cara menghitung rumus. Benar sekali, agar tidak terjadi salah mengartikan makna dari sebuah kata dalam Al-Qur’an (misalnya kata Jihad tadi), juga perlu untuk mengkaji hadis, atau kitab-kitab terjemahan yang lainnya. Pagi ini aku kembali tertampar oleh renunganku, selama ini aku justru lebih sering membaca buku-buku teori, sedangkan intensitas membaca Al-Qur’an sendiri, paling sering 3 kali dalam seminggu. “pantes aja kalo banyak kekerasan atas nama agama yang terjadi di mana-mana, pantes juga kalo banyak maksiat dan pelanggaran-pelanggaran agama lainnya di sekitarku”, demikian fikiranku yang terus mencari hipotesa tentang pengaruh bagi orang-orang yang tidak memahami ayat Al-Qur’an dengan mendalam.
Akhirnya, mari kita kembali membaca dan memaknai Al-Qur’an dengan lebih mendalam lagi. Orang soleh akan memulai hari dengan mendengarkan Al-Qur’an, sebelum atau sesudah shalat pagi, karena Al-Qur’an –sebagaimana adanya- “dipersonifikasikan”, dan muncul dalam beberapa do’a sebagai penolong sejati bagi orang beriman (Schimmel, 2005 : 272) :
“Ya Tuhan, hiasi kami dengan hiasan Al-Qur’an, dan anugerahi kami dengan anugerah Al-Qur’an, dan muliakan kami dengan kemuliaan Al-Qur’an, dan bungkus kami dengan jubah Al-Qur’an, dan jadikan kami masuk Surga dengan bantuan Al-Qur’an, dan selamatkan kami dari semua kejahatan dunia dan penderitaan Akhirat demi kemuliaan Al-Qur’an, Ya Tuhan, jadikan Al-Qur’an bagi kami sahabat di dunia ini, dan teman sejati di kubur (kami), dan teman di Hari Kebangkitan, dan cahata pada jembatan (sirat), dan sahabat di Surga, dan tabir serta pelindung dari api (neraka), dan pembimbing menuju semua perbuatan baik, dengan kemurahan dan kebaikan serta kelapangan-Mu!”



*Wisma Hijau-Hitam, Rabu, 23 Februari 2011.
ditemani Playlist “Gigi-Album : Raihlah Kemenangan”
Share:

Rabu, 16 Februari 2011

Jadi cewek itu harus...

Jadi cewek itu...

Jadi cewek itu kalo masih kecil mainannya harus boneka
Jadi cewek itu cengeng, cerewet atau tukang gosip ya wajar
jadi cewek itu jangan suka berantem
jadi cewek itu sekolahnya jangan jauh-jauh

Jadi cewek itu selain harus penurut
Jadi cewek itu harus lemah lembut,
Jadi cewek itu harus kemayu
Jadi cewek itu harus bisa menyapu, mencuci piring, mencuci pakaian, menyapu dan mengepel lantai...

Jadi cewek itu harus rajin menyapu halaman
Jadi cewek itu jangan suka pulang malam.
Jadi cewek itu jangan suka duduk di depan pintu nanti lamarannya balik lagi.
Jadi cewek itu kalo udah punya suami jangan sering keluar rumah.

Jadi cewek itu harus bisa merawat serta membesarkan anak.
Jadi cewek itu harus bangun pagi,
Jadi cewek itu harus pintar memasak, harus pintar membuat atau menyediakan minuman.
Jadi cewek itu harus pake baju warna cerah misalnya pink, kuning, orange, putih dll.

Jadi cewek itu harus pake pakaian yang rapih atau disetrika dulu.
Jadi cewek itu jangan suka nongkrong
Jadi cewek itu jangan ngrokok
Jadi cewek itu jangan suka lari-lari, main bola, atau naik gunung

Jadi cewek itu harus pinter dandan
Jadi cewek itu jangan kuliah di jurusan teknik, apalagi teknik mesin otomotif
Jadi cewek itu jangan suka ikut demonstrasi
Jadi cewek itu........

*Ah bodo amat, cewek itu harusnya gimana! Jadi cowok aja repot, gak beda jauh sama cewek.. banyak beban yang melekat dari masyarakat buat cowok, dan itu tanpa sepengetahuan kita, tanpa ada konsensus!!! Tapi ngomong2, seharusnya cewek tuh kudu gimana sih???
Share:

untuk pemuja cinta!

Aku Cemburu!

Imajinasiku muncul begitu saja saat ku  ingat nama-Mu
Hayalku melayang lalu diam beku saat kulihat senyum-Mu
Aduhai ini kali aku terperangkap siksa hati

Aku tertusuk rindu
Aku terjerat kasih
Aku terbakar hati

Menggebu...
Sungguh...

Ingin aku selalu bisa memandang manis-Mu
Menatap lesung-Mu bak tamasya di taman mimpi
Ingin aku membunuh mereka semua yang ada di hati-Mu
Ingin rasanya aku minggat dari waktuku
Agar aku bisa kembali bersama-Mu


“30 jan 2011/setelah Subuh”


Share:

Refleksi : Kamu Ini Bagaimana?

Kamu ini bagaimana…

Dengan nikmatnya kamu menghisap sebatang cigarette

itu sudah membunuh banyak orang kok

Walau perlahan dan nyaris tak terlihat namun itu pasti

Tak kau rasakan juga bagaimana menderitanya mereka karena asap yang kau kepulkan kesana kemari itu

Taukah kau, mungkin sebenarnya di dalam hatinya mereka mengeluh

Kamu ini bagaimana…

Dengan kamu mengonsumsi minuman beralkohol

itu sudah membunuh kebahagian orang tua kamu kok

Walau perlahan dan tak terlihat namun itu pasti

Tak kau sadari juga bagaimana mereka menaruh harapan terhadapmu

Mengertikah kau, perngorbanan apa saja yang telah mereka lakukan

untuk mengantarkanmu sampai di sini?

Kamu ini sebenarnya bagaimana…

Sudah tidak takut akan dosakah?

Sudah tidak percaya akan adanya Tuhan-kah?

Kamu ini bagaimana…

Dengan kamu makan enak sepuasnya di tempat yang kau kehendaki

Itu sudah membunuh rasa percayamu akan adanya rasulullah Muhamammad

Beliau tidak pernah mengajarkan agar makan di tempat mewah

Berhentilah makan setelah kenyang, itu yang pernah beliau ucapkan kepada umat-Nya

Oh, iya lupa… tak apa, mungkin karena kamu menganggap bahwa Tuhan itu tidak ada

Sehingga perintah yang wajib kita laksanakan-pun sudah kau anggap ritual yang tak penting

Kamu ini bagaimana…

Hal yang dilarang oleh-Nya sudah kamu anggap sebagai prestasi?

Sebagai alat untuk mendapat predikat gaya? Gaul? Asiik?

Laki-laki, perempuan, laki-laki, perempuan

Adalah dua jenis kelamin yang sengaja diciptakan berbeda secara fisik

meski tidak untuk dibeda-bedakan secara peran

tapi mereka itu berpasangan, berpasangan itu laki-laki dan perempuan

Kamu ini bagaimana…

Punya modal fisik yang sempurna, tenaga serta waktu luang

Kok tidak diolah untuk berlatih mandiri, memanfaatkan waktu luang untuk mengaji

Kok tidak mencari banyak kesibukan untuk dijadikan ibadah

Merasa banggakah ketika kamu masih bisa meminta?

Sudah pernah merasakan nikmatnya bisa berbagi atau memberi?

Kamu ini bagaimana…

Dengan kamu manja, itu sudah membunuh kreatifitasmu

Kamu ini bagaimana…

Merasa sudah punya ilmu yang banyak?

Sudah mendapatkan banyak ilmu, kenapa ilmu itu tidak kau terapkan dalam hidupmu

Kerjamu siang di kamar, duduk di depan internet

Malam duduk di depan minuman mewah

Mengkritik kesana-kemari

Ah, kamu ini bagaimana…

Sudahlah, lebih baik simpan saja kritik-kritik pedas yang kamu lontarkan

untuk mengkritik diri kamu sendiri


“Cirebon, 19 Januari 2010”
Share:

Sabtu, 01 Januari 2011

Bahaya Pragmatisme


Jahatnya Penyakit Pragmatisme!
Oleh : Tino*

Pemanasan atau yang biasa disebut dengan warming up sebelum olah raga itu perlu, agar semua otot dan tulang-tulang tidak terasa tegang atau kencang. Benar kan? Kalimat Itu mungkin analogi yang tepat untuk mendeskripsikan betapa pentingnya proses step by step. Walaupun kadang saat kita berada dalam sistem birokrasi, seharusnya pemahaman tadi berlaku. Akan tetapi mungkin konteks sistem disinipun perlu kita kaji ulang, sistem yang seperti apa? Salah satu tokoh Struktural fungsional, Talcot Parsons dalam kerangka AGIL menjelaskan bahwasanya sebuah sistem akan bekerja maksimal jika semua bidang antara A, G, I dan L dapat berjalan sesuai dengan fungsinya. AGIL yang dimaksudkan Parsons disini yaitu Adaptasi, Goal, Integrasi dan Laten.
Intinya gini, kalau sistemnya “normal” – tidak ada unsur penyimpangan sosial alias gak ada yang cacat maka oke-oke aja kita jalani prosedure yang ada. Misal gampangannya gini ; kita sekolah kan tingkatannya TK, SD, SMP, SMA, PERGURUAN TINGGI dst. Nah, kalau ada salah satu tingkatan sekolah dengan metode pembelajarannya gak sesuai, maka out put dari siswanya pun bakalan “gak bener”. Contoh lainnya gini, mahasiswa yang mau pinjem aula kampus buat kegiatan seminar dll, harus pake surat, proposal, duit jaminan, gak boleh sampe larut malem dan sebagainya. Yang kaya gini nih yang bisa dibilang sistemnya ada yang cacat.
Kembali ke benang merah! Judul yang tertulis diatas arahannya akan lebih berbicara tentang kesiapan dan persiapan individu saat hendak melangkah jauh. Hal kecil misalnya saja belajar atau baca buku, sebelum baca buku tentang B seharusnya baca dulu yang tentang A nya. Sebelum ngomong A, individu itu harus pelajari dulu A sampai benar-benar mengerti atau kalau dituliskan ke dalam kata-kata Mutiara, “Jangan terlalu cepat menyimpulkan” atau “Kalau sudah merasa paham, Jangan langsung besar kepala kemudian banyak bicara”. Kurang lebih seperti itu, karena di atas langit masih ada langit. Benar kan?
Jadi kalau ada yang mau belajar filsafat, (sebaiknya) pelajari dulu tauhid, al-qur’an dan As-sunnah (bagi yang muslim) atau perdalam dulu ilmu tentang keyakinannya. Kalau ada yang ingin belajar Postmodern, (sebaiknya) pelajari dulu perkembangan munculnya Postmodern tersebut, kan sebelum Postmodern ada Modern dan Klasik. Contoh lainnya, kalau ada yang ingin berdebat, berdialektika (sebaiknya) baca dulu referensi atau bukunya sampai tuntas. Sekarang gampangannya gini deh, kalau misalnya kamu banyak ngomong tanpa landasan yang jelas atau sudah menyimpulkan sebelum mengetahui semuanya, kemungkinan besar 90 % argumen kamu akan terbantahkan oleh mereka yang sudah membaca buku atau mempelajari sampai tuntas. Apalagi ketika banyak ngomongnya tanpa memberikan tawaran solusi yang konkret! Kamu bakalan masuk anggota kelompok NATO deh. Kalau di kampus saya mah terkenal dengan sindiran, “mahasiswa kok bisanya Cuma ngritik doang!”.
Ingat! Jahatnya penyakit Pragmatisme, semakin hari semakin mengajak kita untuk beralih ke pola hidup instant. Bahkan dalam hal berfikir kitapun terus dipengaruhi oleh penyakit tersebut. Jangan terlalu cepat menyimpulkan!!! Baca buku atau Kenali dan pelajari lagi lebih jauh dan sampai kamu benar-benar merasa yakin bahwa kamu mengerti akan suatu hal karena ada landasan yang kuat, karena referensi yang jelas! Dengan seperti itu, kamu akan jauh dari rasa ragu untuk berbagi pengetahuan dengan orang lain.

Share:

Si Miskin Konservatif


Pengemis (Si Miskin Konservatif) di tengah Pasar Global
Oleh : Achmad Saptono*


Gambar : Di Sekitar Kampusku
Judul di atas akan terlihat terlalu berat jika hanya dibaca redaksionalnya saja. Mari ikuti apa yang saya maksudkan tentang miskin yang konservatif dalam tulisan ini. Pengemis, dahulu adalah perilaku yang sangat-sangat nista bagi masyarakat. Mengemis adalah hal yang tabu untuk dilakukan jika saja bukan karena kepepet alasan ekonomi. Menyodorkan telapak tangan, menundukkan kepala serta dagu, merintih lapar, bahkan ada yang berdalih mengatasnamakan do’a dan sebagainya.
Pengemis susah untuk diklasifikasikan berdasarkan usia, karena orang yang mengemis tidak melulu orang-orang tua yang sudah tidak mampu bekerja ekstra saja – anak muda dan anak-anak kecilpun menjadi pelaku hal yang sama yakni mengemis, atau bukan cuma pengemis yang cacat fisik saja – melainkan “cacat” akan kesadaran innovatif, progressif, serta kesadaran-kesadaran revolusioner yang lainnya.
Pengemis Berdasi
Bagaimana negara kita mau maju kalau warganya rata-rata mempunyai mental pengemis??!!! Pertanyaan ini seharusnya merupakan sebuah tamparan keras bagi kita yang juga termasuk pengemis akademis. Hanya demi mendapatkan nilai mata kuliah yang bagus, kita rela membawakan makanan apa saja untuk dosen kita. Dosen atau karyawan yang ingin naik pangkat-pun demikian, mereka rela melakukan apa saja seperti merayu, “nyogok”, berperilaku ramah padahal biasanya tidak. Menteri atau Pejabat di DPR, DPRD? Silahkan analisa sendiri, saya kira mental mereka pun tidak akan jauh-jauh dari mental pengemis yang saya maksud. Hanya saja yang membuat kita berbeda dengan mereka adalah mereka termasuk pengemis berdasi, atau pengemis kerah putih sedangkan kita termasuk kategori pengemis akademis. Sama-sama pengemis kan?
Tanpa disadari bangsa kita hidup bergantung dari belas kasih orang atau bangsa lain. Tanpa hutang luar negeri, Pak SBY akan bingung mencari pinjaman hutang. Apakah bisa dikatakan wajar karena kita hidup itu harus simbiosis-mutualisme, saya rasa tidak! Lhah wong akhirnya selamanya kok bangsa kita jadi ketergantungan sama hutang luar negeri. Dan jika kita tarik ke hubungan kausal dampak dari hutang luar negeri ini, maka akan terbukti bahwa bangsa kita tetap berada di bawah tekanan bangsa asing.
Andai saja pengemis yang saya maksudkan mempunyai inisiatif mampu menjadi voluntaire bagi progressivitas dunia kepengemisan, misalkan dengan cara pengemis-pengemis tersebut menawarkan inovasi-inovasi kreatif untuk merubah image bahwasanya pengemis adalah malas, pengemis tidak mempunyai hasrat untuk maju dan sebagainya. Entah apa yang mendasari banyak pengemis yang merasa bangga dengan statusnya sebagai seorang pengemis, cara mudah mendapatkan hasilkah? Senang bermain dramaturgis sebagai seorang pengemiskah? Hobikah? Atau jangan-jangan memang sudah mempercayai bahwa mengemis adalah tradisi yang sudah mendarahdaging pada masyarakat kita? Terlepas dari banyak alasan tadi, saya yakin ada faktor eksternal yang menyebabkan mental pengemis terkonstruk dalam diri masyarakat di sekitar kita ini.
Pengemis Turunan
Fakir miskin dalam hal ini termasuk pengemis, ketika kita mengacu pada UUD 1945 Pasal 34 Ayat 1 jelas bahwa “Fakir miskin dan anak-anak yang terlantar dipelihara oleh negara”. Tetapi realitas di sekitar kita, justru fakir miskin termasuk pengemis tersebut telah dilestarikan secara tidak langsung oleh Negara. Dari data observasi yang dilakukan oleh penulis selama 5 jam di daerah kampus saja, menemukan 5 orang pengemis yang berbeda dan tentunya dengan metode yang berbeda-beda. Berbagai macam kostum dan properti digunakan oleh pengemis semata-mata untuk menarik rasa iba, rasa belas kasih dari semua orang yang ia temui. Menggendong bayi atau balita, berpakaian kucel, rombeng, membawa surat pengantar dari kelurahan atau kecamatan, proposal bahkan sampai pengemis dengan cara “menjual do’a”-pun tak jarang saya temui.
Pernah beberapa minggu yang lalu saya melihat acara di televisi (red*), yang menayangkan tentang kilas-balik seorang pengemis di kota Jakarta. Acara tersebut mengupas fenomena mengemis yang dijadikan sebagai lapangan pekerjaan, pengemis yang menggantungkan nasibnya dengan cara mengemis atau meminta belas kasihan dari orang lain. Dalam acara tersebut pengemis berhasil diwawancarai, salah satu kenyataan yang terungkap dari pengemis tersebut yakni “mengemis adalah lapangan pekerjaan yang menjanjikan, karena penghasilan perhari bisa mencapai Rp.600-800.000 rupiah”. Bahkan yang lebih menjanjikan lagi bagi seorang pengemis adalah ketika omsett di hari-hari besar seperti Hari Raya Idul Fitri bisa mencapai Rp.1.000.000 rupiah. Jika dibandingkan dengan berjualan keliling, mengasong atau kaki lima, pekerjaan mengemis ini memang jauh lebih menjanjikan.
Namun dibalik semua itu, jika kita benturkan dengan halal atau tidaknya pekerjaan mengemis tersebut saya kira perlu kita pertanyakan lagi “Apakah mengemis yang dilakukan oleh pengemis di Jakarta itu termasuk halal atau tidak?”. Kenapa? Karena dalam acara televisi tersebut, pengemis juga mengatakan bahwa “pakaian yang ia kenakan ketika mengemis adalah pakaian khusus untuk mengemis, sedangkan pakaian keseharian dari pengemis tersebut layaknya pakaian biasa yang digunakan masyarakat pada umumnya”.
Sudah demikian parahnya mental pengemis, sudah demikian hebatnya pola pikir instant mencari uang tertanam pada masyarakat Indonesia. Hanya dengan memasang wajah memelas, mengatasnamakan fakir miskin yang tidak mampu dan sebagainya. Ketatnya persaingan dunia kerja serta dampak krisis ekonomi ternyata mampu membuat penyakit pragmatis semakin akut menimpa masyarakat Indonesia. Pengemis yang dijelaskan pada paragraf sebelumnya adalah yang saya maksud dengan Pengemis (Si Miskin yang Konservatif). Karena mereka tidak mampu menyesuaikan dengan kondisi zaman yang sudah terpengaruh oleh Pasar Global, dimana inovasi termasuk dalam hal IPTEK sudah semakin bermunculan dari berbagai macam bidang. Semangat mereka adalah bukan semangat pekerja keras yang memimpikan kemajuan. Kalau saran saya, segera jauhi mental-mental pengemis itu, lalu beralihlah menanamkan mental entrepreneurship, atau leadership sedini mungkin. Mari kita lakukan hal-hal yang belum pernah kita lakukan, diawali dari hal-hal yang paling kecil.
Share:

Sabtu, 11 Desember 2010

Cerita dari Bibir Pantai

Remaja, Gubuk-gubuk kecil dan Masyarakat

Oleh : Achmad Saptono*



Menjelang sore tiba, cuaca mendung menghampiri siang yang tadinya tersenyum cerah. Di hari itu matahari-pun tampak murung berselimut awan, “sepertinya matahari akan tertidur”, ucapku dalam hati. Dari bibir pantai aku menatap ombak berkejaran, aku alihkan pandangan ke sebelah kiri lalu kudapati hijaunya bukit yang indahnya mampu membuatku terkagum, terpaku dan terdiam sepersekian detik. “Subhanallah... kurasakan segar dan sangat-sangat nyaman memandang ciptaan-Mu yang satu ini”, kembali aku berkata dalam hati.

Aku yang berdiri tak jauh dari permukaan pantai rupanya telah berhasil terbius oleh keindahan-keindahan ciptaan-Nya, hingga tak sadar di sekelilingku ramai oleh pengunjung pantai yang lainnya. Kulemparkan senyum sambil mengingat memori masa kecilku saat beberapa meter dari sebelah kananku, beberapa kawanan anak kecil telanjang dada berlarian saling melempar pasir pantai. Seakan enggan untuk meninggalkan tempat ini, dan tidak sudi mengaburkan semua rasa yang kudapati kali ini. Meski air laut sudah sedikit berubah warna dari biru menjadi cokelat kehitaman, tapi sudah setengah jam lebih mataku berkelana menikmati indahnya hamparan laut dari kejauhan dan bukit dari bibir pantai. “Astaghfirullah...”, kedua kalinya akupun baru menyadari bahwa aku berkunjung ke tempat ini tidak sendirian. “Dimana ya teman-temanku yang lain? Bukankah pas menuju pintu masuk tempat ini, mereka ada di belakang motorku persis? atau jangan-jangan mereka malah tidak jadi ke tempat ini?”, beberapa pertanyaan langsung memenuhi kepalaku.

Tak hilang sadarku untuk mencari tahu keberadaan mereka, kukirim sms singkat dengan handphone-tanpa abjad kesayanganku, “kalian ad di sblah mna?”. Matakupun mulai sibuk ke kanan, ke kiri, ke depan dan ke belakang mencari keberadaan teman-temanku. Ratusan meter kearah kanan dari posisiku berdiri, sekelompok remaja sedang bergerombol tak jauh dari bibir pantai duduk-duduk di atas kendaraan bermotor, dan ada satu pengendara motor yang sedang asyik bermain Free Style dengan motor bebeknya . Lalu tiba-tiba terdengar sms masuk di handphone’ku, “kita ada di sebelah timur, masih di sekitar tempat km masuk”. Langsung saja aku balas sms itu, “Patokannya ap?dr orng yg sdg Jamping2an, kalian seblah mananya?”. Tak lama kemudian kembali temanku membalas sms, “pokonya km jalan aja ke arah timur, dr bibir pantai keliatan kok!”. Kurang lebih 10 sampai 15 meter ke arah barat dan ke arah timur bibir pantai aku berjalan kaki mencari teman-temanku, beberapa kerumunan orang aku dekati, ternyata selalu salah dugaanku. “kalo di sekitaran sini gak ada, lalu dimana mereka?”. Agh... akhirnya aku putuskan untuk mengambil motor di parkiran, pelan-pelan kukendarai motor bebek pinjamanku menyusuri pantai, belum juga aku temukan. Kualihkan fikirku untuk mencari teman-temanku di sekitar parkiran motor dan kolam renang yang tak jauh dari pintu masuk utama ke pantai. Sambil terus menyusuri jalan setapak penuh pasir laut ke arah timur, di sebelah kananku pemandangan ladang palawija yang hijau sedangkan di sebelah kiriku dihiasi oleh semak alang-alang dan gubuk kecil berukuran 1 meter berderetan diantara semak-semak. “Andaikan saja aku punya kamera yang bisa memotret semua hal menarik yang ada disini dari dari jauh”, dari atas motor yang melaju pelan akupun menghayal sebentar.

*gambar gubuk tanpa pasangan remaja, (mungkin) karena lokasi yang kurang menyusup

Tak ada pemandangan yang menarik di dalam gubuk-gubuk kecil itu selain pasangan remaja yang rata-rata sedang asyik bercumbu. Diantara pelan laju motorku, lagi-lagi aku diserang oleh runtunan pertanyaan di kepala tentang pasangan remaja tadi. Ditambah lagi ada beberapa gubuk kecil dengan pasangan remajanya yang menyusup di tengah semak-semak. Satu persatu pertanyaan itu membabi buta dalam otakku, “Untuk apa ada banyak Gubuk kecil di semak-semak ini? Kenapa ada? Siapa yang membangun? Fasilitas dari pengelola pantai? Pengunjungkah yang membangun? Jangan-jangan gubuk-gubuk kecil ini disewakan...” yaah... belum sempat muncul semua pertanyaanku, aku teringat pengalaman beberapa waktu yang lalu. Seingatku, dulu aku pernah duduk diatas kursi dekat pantai untuk sekedar foto-foto bersama salah seorang teman nongkrongku di kampus, tiba-tiba sang pengelola pantai dengan pakaian ala Baywatch mengampiri, “Mas, bayar sewa kursinya lima ribu aja, kalo siang tah tujuh ribu limaratus”. Aku yang saat itu hanya membawa uang pas untuk ongkos, parkir dan makan malam langsung tercengang. Akhirnya aku meminta temanku yang membayar sewa kursi tersebut.

Sampai kejauhan kurang lebih 1-2 km dari parkiran motor barulah lipatan muka penuh kebingunganku berubah sementara menjadi senyum lega karena telah menemukan teman-temanku yang dari tadi aku cari kesana kemari. Turun dari motor, sepertinya otakku telah berhasil dirasuki oleh fikiran-fikiran dan pertanyaan seputar Gubuk Kecil dan beberapa pasangan remaja tadi. “Mereka para generasi bangsa kok kompakan sekali ya, berpasang-pasangan di hari yang sama...atau jangan-jangan memang setiap hari gubuk-gubuk kecil ini dipenuhi oleh remaja-remaja kasmaran? Kalau udah sering dipake maksiat gini, lalu siapa dong yang pantas untuk disalahkan? Remajanya atau yang menyediakan gubuk-gubuk kecilnya?”. Aku mungkin seolah terlihat autis di mata teman-temanku yang sedang asyik bermain ombak dan pasir di tepian pantai. Tubuhku memang berada dengan mereka, tapi pandanganku kosong dan fikiran terus melayang tertuju pada remaja, gubuk dan satu lagi yang muncul dalam fikiranku yaitu masyarakat. Mereka, entah pengelola atau pedagang di sekitar pantai yang telah menyediakan fasilitas gubuk tersebut, bagiku mereka bagian dari masyarakat. Bisa saja mereka sengaja menyediakan fasilitas tersebut untuk menambah penghasilan sehari-hari, atau dengan kata lain karena himpitan ekonomi akhirnya mereka terpaksa mencari nafkah dengan cara yang salah itu. Begitupun juga para generasi penerus bangsa yang sedang dilanda kasmaran tadi, mereka berani melakukan maksiat mungkin karena merasa ada kesempatan, karena ada tempat yang sepi di antara semak-semak dan di sekelilingnya dihiasi oleh pemandangan alam bebas, ombak lautan, pasir pantai, langit yang nampak rapat dengan permukaan laut dan bukit nan hijau. Kalau saja aku berfikiran bahwa yang salah adalah remajanya, itupun bisa jadi, karena mereka (para remaja) yang pola pikirnya dimana ada kemauan disitu ada kesempatan! hahaa.... tawa kecilku sontak mengiringi langkah kakiku menuju salah seorang teman yang mengajak pulang.

Nampaknya sore di pantai kali ini sang sunset telah tertidur berselimutkan mendung tebal, akupun bersama teman-temanku dengan rela meninggalkan pantai beserta keindahan-keindahan di sekitarnya, dengan masih dihantui oleh bayang pertanyaan-pertanyaan seputar remaja, gubuk-gubuk kecil dan masyarakat.





Pwt, 10 Desember 2010.

=Wisma Hijau-Hitam=
Share:
Counter Powered by  RedCounter

Pages

Popular Posts

About Me

Foto saya
Cirebon, Jawa Barat, Indonesia
Seorang Presiden di negara Republik Tinosia

Followers