"Sekadar umpatan yang tersimpan dalam barisan kata"

Selasa, 27 September 2011

Seumpama

  Pangkuan Mentari

Barangkali cawan ini terlalu lama dalam almari
Hingga hiasan tulisan tlah kabur tertutup debu
Seumpama bahagia adalah saat pagi bernyanyi
Hadirmu kan kuantarkan di pangkuan mentari yang merindu
Seumpama kasih adalah saat kau terjaga diantara malam
Akan kubiarkan pagi menanti di sudut jalan berantah

“Cirebon, 26 Sept. 2011”

Share:

Rabu, 21 September 2011

Kemelut


Kemelut

Pendar rindu membuncah setiap waktu
Tak ayal tatkala aku terpelanting menuju sepi
Kalut memberingsut gelap dan kabut
Hempaskan aroma kasih membaur laksana kemelut
Bulan cemberut mentari-pun takut
Dalam hampanya ruang rasaku tersudut
Semakin tersudut semakin hanyut

“September, Cirebon/Purwokerto”
















Share:

Selasa, 09 Agustus 2011

Peribahasa: Bagai Hukum di Daun Talas


Bagai Hukum di Daun Talas
Oleh : Achmad Saptono

Orang yang nyolong ayam terus ditangkep, dipenjara atau digebukin, dibakar itu udah biasa. Orang yang ngomongnya nyentil-nyentil pemerintah (walau Cuma di Internet) ditangkep, itu juga udah biasa. Mahasiswa pada demo di depan gedung DPR, DPRD atau di Istana negara, ditangkep juga... ya itu biasa. Orang naik mobil atau motor tanpa surat-surat, ditangkep, dikira maling, itu biasa. Orang yang nyolong cokelat, nyolong semangka atau sejenisnya ditangkep selama sekian bulan atau sekian tahun, yaah biasa sih... baru aja kemaren-kemaren kasus itu terjadi.
Para pejabat yang korupsi duit rakyat jutaan, milyaran bahkan sampai triliunan ditangkep, itu biasa...eh, engga ding... pejabat ditangkep? Pura-pura ditangkep mungkin lebih tepatnya, lhah biasanya kan mereka itu sebelum ditangkep, terus mereka tiba-tiba langsung (pura-pura) sakit. Hukum yang ada di negara ini katanya gak berlaku buat orang yang lagi sakit. Pantesan dulu Pak Soeharto itu gak pernah ditangkep ya??? Doi kan sakit-sakitan mulu. Hahhaa.... padahal waktu jaman pemerintahannya Pak Soeharto tau sendiri kan? Ngritik dikit culik, bunuh!! Tembak mati!!! Buktinya sampe sekarang masih ada tuh, Om Wijii Thukul sampe sekarang ilang gak ketemu gara-gara dulu doi ngritik pemerintahannya Pak Soeharto lewat puisi-puisinya.
Share:

Sabtu, 18 Juni 2011

Essay Propaganda Mens sana in Corporesano


KOMODIFIKASI MAKNA SEHAT – SAKIT
Oleh Achmad Saptono

Manusia dalam berbagai bidang mempunyai kepentingan masing-masing, karena manusia adalah mahluk yang berkepentingan. Bidang kesehatan adalah salah satu lahan untuk melanggengkan kepentingan bagi para oknum dalam dunia kesehatan. Makna sehat sengaja diciptakan sesuai dengan maksud dan kepentingan tertentu. Terlepas dari perkembangan dan beberapa perbedaan makna sehat, di bawah ini terdapat beberapa definisi tentang makna sehat yang mengacu pada UU dan WHO.
Mengacu pada UU No.23, Tahun 1992 tentang Kesehatan, bahwa Kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa dan sosial yang memungkinkan hidup produktif secara sosial dan ekonomi. Dalam pengertian ini, maka kesehatan harus dilihat sebagai satu kesatuan yang utuh terdiri dari unsur-unsur fisik, mental dan sosial dan di dalamnya kesehatan jiwa merupakan bagian integral kesehatan. Sedangkan definisi sakit sendiri adalah seseorang dikatakan sakit apabila ia menderita penyakit menahun (kronis), atau gangguan kesehatan lain yang menyebabkan aktivitas kerja atau kegiatannya terganggu.
Share:

Jumat, 17 Juni 2011

Tentang Skripsi


Save Paper For The World
oleh : Achmad Saptono

“Waktu SD, SMP dan SMA jangan dihitung dulu. Mari menghitung kertas yang kita gunakan Sejak pertama kali kita duduk di bangku kuliah. Kalau kita akumulasikan, berapa jumlah kertas yang sudah kita gunakan untuk mengerjakan tugas kuliah, keperluan membuat surat, proposal, skripsi dan sebagainya?”

Bermain, itulah salah satu aktivitasku di kampus akhir-akhir ini sambil menanti ritual dikukuhkannya gelar kesarjanaanku. Perpustakaan di jurusan, perpustakaan fakultas, perpustakaan universitas, termasuk gudang penyimpanan tumpukan proposal dan skripsi di kampusku, adalah beberapa tempat bermainku menghabiskan waktu siang menjelang sore (selain sekretariat UKM dan Kantin). Hal yang aku pikirkan ketika aku berada di ruangan perpustakaan jurusan, fakultas dan perpustakaan universitas adalah tentang “tumpukan skripsi dengan aneka judul dan dengan tebal yang beragam” meyesuaikan minat dan kemampuan mahasiswa.
Share:

Jumat, 03 Juni 2011

Tentang Hidup


Hakikat Hidup

Cantik, menarik
Tampan, menawan
Tak ada pembedaan
Itulah penciptaan
Kekurangan adalah salah satu kelebihan
Kelebihan adalah salah satu kekurangan
Yang penuh pertimbangan
Tidak serta merta tanpa alasan
Karna Dia-lah yang punya hidup dan matinya Manusia
Dunia serta akhirat sudah tersirat dalam diary-Nya
Kita hanya hamba yang menjadi aktor dalam cerita-Nya
Syukuri-lah hidup ini dengan penuh ikhtiar untuk mendapatkan Cinta-Nya
Karna hakikat hidup adalah atas kuasa Cinta dari Yang Maha Esa

"Purwokerto, 03 Juni 2011" 
 
 
Sebersit Senyum dari Sang Rembulan

Gumpalan awan cerah tersenyum menawan
Bak peluru senapan ia melesat menembus ketiadaan harapan
Lembut aura nan tenang berhamburan
Menghujam kalut serta resah di selaksa pikiran

Dari celah keheningan ia mencuri perhatian
Ia menari di antara gelap membakar keputusasaan
Secawan kasih sayang ia tumpahkan tepat di kegelisahan
Hingga mabuk semabuknya menyelami malam kala hujan

"Purwokerto, 03 Juni 2011"

Share:

Kamis, 26 Mei 2011

Naskah Teater

“Mensana in Corporesano”
Oleh : Achmad Saptono


Pemain :
Aleksander (Pria Dewasa 40 Tahun)
Junos (Supir Truk Sampah 45 Tahun)
Pierce (Pemulung 25 Tahun)
Ranti (Ibu Muda pemulung 21 Tahun)
Evan (Anak Pemulung 3 & 18 Tahun)
Tania (Karyawan Pabrik 27 Tahun)

(Panggung sepi, seorang Pria Dewasa (40 tahunan) Aleksander yang dulu bernama Pierce dengan pakaian jas hitam mewah, duduk di depan TV, menonton berita tentang semakin meningkatnya pemulung dan pengais sampah di suatu daerah, kini sahamnya dimana-mana, pabrik, dan perusahaan-perusahaan yang dikelola oleh orang lain (karyawannya), ia hanya duduk di rumah menunggu menerima uang penghasilan saja)

Aleksander :
Hidup yang sehat adalah hidup sepertiku saat ini, jauh dari tempat-tempat kumuh. Aku ingin ini ada yang mengantar, aku ingin itu ada yang menyiapkan. Aku butuh apapun tinggal bilang, dengan mudahnya pelayan-pelayanku yang akan menyediakannya. Aku merasa sehat di dalam negara yang tidak sehat. Ah berita itu...tempat tinggalku di masa lalu... aaargh....
(Aleksander meninggal, lighting black out)
Share:

Selasa, 24 Mei 2011

Buku ke Internet


Zaman Peralihan “Jendela Dunia”[1]
Oleh : Achmad Saptono[2]

“Aku lebih suka mencari bahan bacaan atau materi untuk tugas kuliah dari situs-situs yang tersedia di internet ketimbang mencari dari buku”, ungkap seorang mahasiswa Ekonomi (pen.) di perguruan tinggi negeri yang ada di Purwokerto.

Saya kira hal tersebut bukan hanya dirasakan oleh satu-dua orang mahasiswa saja, tetapi hampir secara keseluruhan mahasiswa saat ini, untuk urusan bahan bacaan atau materi tugas perkuliahan sudah beralih orientasi mencari ke dunia maya (internet). Memang sudah tidak bisa dipungkiri lagi betapa cerdasnya “Paman google” sebagai situs mesin pencari di dunia maya. Dengan menuliskan kata perintah apa saja sesuai dengan keinginan di google, maka ribuan bahkan mungkin jutaan artikel yang diinginkan-pun langsung muncul hanya dalam hitungan waktu sepersekian detik. Bukan hanya google yang saat ini sudah diakui kehebatannya, masih banyak situs-situs lainnya yang menyediakan berbagai macam artikel – yang seringkali dibutuhkan dan sering dikunjungi oleh mahasiswa saat ini. Sebut saja beberapa situs terkenal seperti : Wikipedia, Scribd, Indoskripsi, Kompas, Tribunnews, Detik, Tempo Interaktif, JPNN, Yahoo dan masih banyak situs lainnya yang menjadi halaman favorit pada saat mahasiswa sedang pusing mencari bahan bacaan atau materi tugas perkuliahan.
Share:

Tentang Menulis

Keresahanku adalah Bingung ingin berkata apa? Tuliskan saja lah!
Oleh : Achmad Saptono

“Harus ada keresahan dulu sebelum pentas atau sebelum berkarya, termasuk menulis, kalau tidak resah ya harus dicari keresahan itu. Kalau merasa tidak resah, berarti ada yang salah dengan kepedulian atau kepekaan kita”
Suatu sore yang cerah. Dheas mahasiswa Sosiologi semester 5 di Universitas Negeri Purwokerto (UNP), usai Ashar ia melaju dengan honda bebek menuju kosan Balqis teman satu jurusan dan teman satu angkatannya. Semangat 45 Dheas menghipnotis laju kendaraan yang ia tunggangi seolah kesetanan. Hanya membutuhkan waktu 5 menit untuk menempuh kosan Balqis, yang jaraknya 2 Km dari rumah Dheas. Sesampainya di depan pintu kosan Balqis, Dheas mendapati pintu kosan itu tertutup rapat dengan gembok yang menggantung. “Ah, sial! Kenapa Balqis gak ada di kosan? Pasti dia lagi nongkrong di sekre nih...” gumamnya dalam hati. Tanpa pikir panjang, Dheas langsung menuju sekretariat UKM. Seperti dugaannya, Balqis sedang asik berdiskusi dengan teman UKM-nya di ruang sekretariat.
Share:

SiAnak, Theatre Of Change


Theatre Of Change[1]
(Teater SiAnak : Sebuah pertunjukan yang tidak bebas nilai)
Oleh : Achmad Saptono[2]

“Layaknya ember tanpa air, layaknya gunung tanpa pepohonan, layaknya berjalan tanpa tujuan, layaknya motor tanpa bahan bakar, layaknya pertunjukkan teater SiAnak tanpa isu yang disampaikan!” Kurang lebih seperti itu saya memahami SiAnak sebagai salah satu pertunjukkan teater kampus yang tidak bebas nilai!!!

A.     Tentang Teater Kampus
Dulu pertama kali masuk kuliah, pernah saya mendefinisikan bahwa teater adalah tempat sampah, bahwa teater adalah tempat orang-orang yang tidak waras, teater adalah tempat nongkrongnya mahasiswa-mahasiswa yang akan lulus lama, mahasiswa malas, mahasiswa urakan. Pokoknya, banyak sekali definisi yang saya pikirkan tentang apa itu teater kampus dan sampai sekarang belum ada referensi pasti yang menjelaskan tentang definisi teater kampus. Meskipun demikian, satu hal yang harus diingat bahwa bagaimanapun juga teater kampus jelas berbeda dengan teater komunitas non-kampus (umum). Kenapa berbeda? Di bawah ini akan coba saya jelaskan dengan bagaimana pentingnya peranan teater kampus dalam kehidupan sosial.
Share:

Senin, 23 Mei 2011

Refleksi 21-22 Mei


Laki-laki Gelap di Sudut Jendela

Ayo berlari...
Laki-laki itu berteriak
Bukankah cahaya itu indah
Tak usah takut
Di sana, aku sudah menyiapkan bekal untukmu
Penghilang lapar dan dahaga

Ayo tersenyum...
Laki-laki itu merayu
Bukankah masa lalu tak kan terulang
Tak usah sedih
Aku akan mengajakmu agar selalu bernyanyi
Menghapus gelap masa lalumu

Tidak usah terlalu kau pikirkan gelapmu itu
Karna masih banyak gelap lain yang belum kau jamah
Di jendela itu, di balik gorden itu
Kamu boleh sesekali mengintip gelap
Asalkan jangan terlalu lama

Tempat tidurmu
Selimut dan dinding itu
Mereka yang menghantarkanmu menciptakan mimpi
Mulailah rangkai mimpimu
Ini kali aku akan bantu membingkai mimpi-mimpimu

Dirangkulnya wanita itu
Menuju malam

Laki-laki gelap itu
Pemuda dengan dada lebam menghitam
Perlahan melucuti gaun wanita
Tak sehelai kain-pun tersisa
Dengan nafas terengah ia menikmati gelap di antara selangkangan
Mereka saling menikmati
Mereka larut dalam kenikmatan
Dada yang hitam lebam tak ia hiraukan
Semakin memar..
Darah lebam dalam dadanya semakin menggumpal

Saat itu, menjadi malam tersembunyi
Tanpa sadar malam itu semakin melengkapi kegelapan wanita
Semakin membuat luka lebam menghitam di dada laki-laki kian menjadi

Saat esok tiba
Tampak wajah murung wanita menatap dinding kamar
Sementara laki-laki gelap di sudut jendela
Mengawasi setiap langkahnya
Setiap tarikan nafasnya

Laki-laki gelap di sudut jendela
Lukanya terbalut syahwat
Tertutup birahi dunia

“220511”

Cobaan

Bismillah...
Mengelus dada...
Ya Allah
Astaghfirullah
Lagi
Bukan bertanya
Apalagi menghujat
Ini cobaan atas kehendak-Nya
Ini anugerah penuh hikmah
Syukuri, lalu hadapi saja

“210511”
Share:

Senin, 02 Mei 2011

Refleksi MayDay

MayDay, aksi refleksi semua diri


Ada yang bangga, Ada yang merasa berduka
Ada yang tertawa, Ada yang merasa resah
Ada yang menjajah, Ada yang dijajah, Ada yang merasa terjajah
Semua bermain peran
Ada yang sadar peran, Ada yang tidak sadar peran
Mereka mengenang, lalu terbayang
Ini saatnya untuk kita menentang
Mereka mengenang, lalu senang
Ini saatnya untuk kita pura-pura tercengang
Buruh pahala, buruh dosa, buruh tinta, buruh ketawa
Buruh tani, buruh pabrik, buruh politik
buruh berita, buruh air mata, buruh tinja
Dan buruh-buruh lainnya
Siapa sebenarnya mereka?
Buruh adalah mereka, Mereka adalah kita semua, Kita semua adalah buruh
Buruh migran dan buruh rumah tangga, korban kemiskinan
Buruh pendidikan, korban kebodohan
Ada buruh, ada pemerintah
Ada yang slalu disuruh dan diburu, ada yang selalu memerintah
MayDay bukan ritual, bukan pula seremonial
MayDay, aksi refleksi semua diri


“Minggu pagi, 09.35 WIB/01052011”
Share:

Rabu, 23 Februari 2011

Mari merenung


Pagi Ini Aku Kembali Tertampar oleh Renunganku

Mendengarkan Al-Qur’an berarti mendengarkan Allah; mendengar menjadi melihat, melihat menjadi mendengar, pengetahuan menjadi tindakan, tindakan menjadi pengetahuan – itulah “mendengarkan yang baik dan benar (Abu Hafs Omar Suhrawardi).

Jam di handphone menunjukan waktu pagi pukul 04.33 WIB, setengah sadar aku berjalan menuju tempat wudhu lalu berhenti sejenak sampai nyawaku merasa benar-benar terkumpul. Setelah mengambil air wudhu lalu sholat subuh dilanjutkan dengan membaca Al-Qur’an. Kali ini Q.S At-Taubah yang aku baca, surat Makkiyah tersebut aku baca karena yang aku ingat akhir-akhir ini banyak sekali tindak kekerasan antarumat beragama yang mengatasnamakan Jihad, dan aku pikir semua tentang Jihad termaktub dalam surat yang aku baca tersebut. Seingatku, dulu pernah seorang Ustadz menyampaikan bahwa surat tersebut diturunkan pada Zaman Rasulullah Muhammad SAW. Saat itu sedang terjadi perang besar-besaran antara umat Islam dengan orang-orang kafir di Mekah, saat dimana umat muslim waktu itu sedang benar-benar diserang habis-habisan. Bagaimana tidak, pada saat itu jika diketahui ada seorang keluarga muslim yang akan melahirkan anaknya maka anak tersebut tidak akan segan-segan dibunuh oleh orang-orang kafir.
Kejam memang, pembantaian besar-besaran terjadi dalam kubu umat muslim kala itu. Nah, karena alasan dan untuk menjawab persoalan saat itu akhirnya Q.S At-Taubah diturunkan dengan tanpa bacaan basmalah. Surat tersebut dianggap sebagai tanda genderang perang yang isinya memerintahkan kepada umat muslim untuk memerangi orang-orang kafir saat itu. Simak saja Q.S. At-Taubah ayat 73 yang artinya :
“Hai Nabi, berjihadlah (melawan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu, dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka ialah jahannam. Dan itu adalah tempat kembali yang seburuk-buruknya.”
Setelah selesai membaca Al-Qur’an, aku pun sejenak merenung. Teringat kejadian akhir-akhir ini yang menimpa umat muslim di Indonesia bahkan mungkin di dunia. Setelah penyerangan terhadap warga muslim di Palestine, kemudian penyerangan jama’ah Ahmaddiyah di Cikeusik, Pandeglang-Banten, dan disusul dengan kekerasan serupa yang terjadi di Temanggung. Saat aku teringat berapa korban jiwa yang terbunuh, akupun ingat beberapa waktu lalu dimana telah terjadi pengeboman bunuh diri di tempat-tempat (yang dianggap) maksiat, yang dilakukan oleh kawanan teroris yang mengatasnamakan Jihad. “Jihad memerangi orang-kafir dengan cara (membunuh) itu kan dilakukan kalo konteksnya dimana Islam sedang benar-benar kepepet diserang oleh mereka para orang-orang kafir, tapi kalo tidak ya...kan banyak Jihad dengan cara lain, hhmm... andai mereka benar-benar memahami isi ayat-ayat dalam Al-Qur’an”, gumamku dalam hati. Sepengetahuanku dalam Q.S. At-Taubah ayat 20 disebutkan, yang artinya :
Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan.”
Jihad bukan hanya dengan cara membunuh, menyumbangkan harta benda pun bisa dikatakan Jihad. Pukul 05.10 WIB aku beranjak dari ruang sholat menuju tempat tidur, tepat di atas tempat tidur aku lihat rak buku, pandanganku terhenti pada salah satu buku yang berjudul “Mengurai Ayat-ayat Allah, karya Annemarie Schimmel”. Sambil membuka buku tersebut, aku kembali berfikir dan mencoba mengingat-ingat makna Jihad yang dulu pernah disampaikan oleh salah satu dosen di kampusku. Pak Abdul Rohman seorang dosen di kampusku pernah bilang, bahwa : “banyak cara yang bisa dilakukan untuk Jihad dijalan-Nya. Jihad itu bisa berarti :
  1. Berjuang dengan sungguh-sungguh dan sekuat tenaga untuk memperoleh hasil yang diinginkan.
  2. Berjalan di dalam jalan Allah
  3. Berjuang dengan harta, nyawa, utk membela kebenaran
  4. Berperang, memanggul senjata melawan musuh-musuh agama
Kurang lebih seperti itu dosenku memaknai kata Jihad. Jika Ahmaddiyah dianggap menyesatkan karena pernah mempercayai adanya Nabi terakhir setelah Muhammad SAW, itu memang benar. Karena Nabi terakhir dalam Islam tidak lain adalah hanya Rasulullah Muhammad SAW. Tapi, upaya yang dilakukan untuk menyadarkan mereka yang dianggap sesat ini kenapa langsung dengan menggunakan kekerasan. Ini lah yang aku sesalkan.
Buku “Mengurai Ayat-ayat Allah” yang ada di tanganku lanjut aku buka-buka dengan tak beraturan, aku acak lalu berhenti pada halaman 282, pada halaman tersebut penulis buku mengutip tulisan mantan rektor Universitas Al-Azhar – Kairo, Mustafa al-Maraghi :
“Agama sebenarnya tidak mungkin bertentangan dengan kebenaran, dan ketika secara positif diterima kebenaran semua ungkapan ilmiah yang tampak tidak sesuai dengan Islam, ini hanya karena kita tidak memahami Al-Qur’an dan tradisi (sunnah) dengan benar. Dalam agama kita, kita memiliki ajaran universal yang menegaskan bahwa, ketika sebuah kebenaran opodiktik bertentangan dengan teks wahyu, maka kita hendaknya menginterpretasikan teks secara alegoris.”
Ada kata-kata yang menarik dari apa yang disampaikan oleh al-Maraghi di atas, “karena kita tidak memahami Al-Qur’an dan tradisi (sunnah) dengan benar”. Wow.. Memang sangat besar resikonya jika memaknai Al-Qur’an secara parsial, karena Al-Qur’an bukanlah buku Fisika, Biologi atau Matematika yang bisa dipahami langsung dengan cara menghitung rumus. Benar sekali, agar tidak terjadi salah mengartikan makna dari sebuah kata dalam Al-Qur’an (misalnya kata Jihad tadi), juga perlu untuk mengkaji hadis, atau kitab-kitab terjemahan yang lainnya. Pagi ini aku kembali tertampar oleh renunganku, selama ini aku justru lebih sering membaca buku-buku teori, sedangkan intensitas membaca Al-Qur’an sendiri, paling sering 3 kali dalam seminggu. “pantes aja kalo banyak kekerasan atas nama agama yang terjadi di mana-mana, pantes juga kalo banyak maksiat dan pelanggaran-pelanggaran agama lainnya di sekitarku”, demikian fikiranku yang terus mencari hipotesa tentang pengaruh bagi orang-orang yang tidak memahami ayat Al-Qur’an dengan mendalam.
Akhirnya, mari kita kembali membaca dan memaknai Al-Qur’an dengan lebih mendalam lagi. Orang soleh akan memulai hari dengan mendengarkan Al-Qur’an, sebelum atau sesudah shalat pagi, karena Al-Qur’an –sebagaimana adanya- “dipersonifikasikan”, dan muncul dalam beberapa do’a sebagai penolong sejati bagi orang beriman (Schimmel, 2005 : 272) :
“Ya Tuhan, hiasi kami dengan hiasan Al-Qur’an, dan anugerahi kami dengan anugerah Al-Qur’an, dan muliakan kami dengan kemuliaan Al-Qur’an, dan bungkus kami dengan jubah Al-Qur’an, dan jadikan kami masuk Surga dengan bantuan Al-Qur’an, dan selamatkan kami dari semua kejahatan dunia dan penderitaan Akhirat demi kemuliaan Al-Qur’an, Ya Tuhan, jadikan Al-Qur’an bagi kami sahabat di dunia ini, dan teman sejati di kubur (kami), dan teman di Hari Kebangkitan, dan cahata pada jembatan (sirat), dan sahabat di Surga, dan tabir serta pelindung dari api (neraka), dan pembimbing menuju semua perbuatan baik, dengan kemurahan dan kebaikan serta kelapangan-Mu!”



*Wisma Hijau-Hitam, Rabu, 23 Februari 2011.
ditemani Playlist “Gigi-Album : Raihlah Kemenangan”
Share:

Rabu, 16 Februari 2011

Jadi cewek itu harus...

Jadi cewek itu...

Jadi cewek itu kalo masih kecil mainannya harus boneka
Jadi cewek itu cengeng, cerewet atau tukang gosip ya wajar
jadi cewek itu jangan suka berantem
jadi cewek itu sekolahnya jangan jauh-jauh

Jadi cewek itu selain harus penurut
Jadi cewek itu harus lemah lembut,
Jadi cewek itu harus kemayu
Jadi cewek itu harus bisa menyapu, mencuci piring, mencuci pakaian, menyapu dan mengepel lantai...

Jadi cewek itu harus rajin menyapu halaman
Jadi cewek itu jangan suka pulang malam.
Jadi cewek itu jangan suka duduk di depan pintu nanti lamarannya balik lagi.
Jadi cewek itu kalo udah punya suami jangan sering keluar rumah.

Jadi cewek itu harus bisa merawat serta membesarkan anak.
Jadi cewek itu harus bangun pagi,
Jadi cewek itu harus pintar memasak, harus pintar membuat atau menyediakan minuman.
Jadi cewek itu harus pake baju warna cerah misalnya pink, kuning, orange, putih dll.

Jadi cewek itu harus pake pakaian yang rapih atau disetrika dulu.
Jadi cewek itu jangan suka nongkrong
Jadi cewek itu jangan ngrokok
Jadi cewek itu jangan suka lari-lari, main bola, atau naik gunung

Jadi cewek itu harus pinter dandan
Jadi cewek itu jangan kuliah di jurusan teknik, apalagi teknik mesin otomotif
Jadi cewek itu jangan suka ikut demonstrasi
Jadi cewek itu........

*Ah bodo amat, cewek itu harusnya gimana! Jadi cowok aja repot, gak beda jauh sama cewek.. banyak beban yang melekat dari masyarakat buat cowok, dan itu tanpa sepengetahuan kita, tanpa ada konsensus!!! Tapi ngomong2, seharusnya cewek tuh kudu gimana sih???
Share:

untuk pemuja cinta!

Aku Cemburu!

Imajinasiku muncul begitu saja saat ku  ingat nama-Mu
Hayalku melayang lalu diam beku saat kulihat senyum-Mu
Aduhai ini kali aku terperangkap siksa hati

Aku tertusuk rindu
Aku terjerat kasih
Aku terbakar hati

Menggebu...
Sungguh...

Ingin aku selalu bisa memandang manis-Mu
Menatap lesung-Mu bak tamasya di taman mimpi
Ingin aku membunuh mereka semua yang ada di hati-Mu
Ingin rasanya aku minggat dari waktuku
Agar aku bisa kembali bersama-Mu


“30 jan 2011/setelah Subuh”


Share:
Counter Powered by  RedCounter

Pages

Popular Posts

About Me

Foto saya
Cirebon, Jawa Barat, Indonesia
Seorang Presiden di negara Republik Tinosia

Followers