"Sekadar umpatan yang tersimpan dalam barisan kata"

Minggu, 16 Oktober 2011

Menanti Purnama


Menanti Purnama, Kapan Kembali Cerah

Bulir keringat di pelipis mata
Cahaya penantian...
Deru kenangan penuh sesak membayang dalam ingatan
Tak sekejap saat kuletakkan rasa di meja kasih
Hingga kasih kini tlah membaluri degup jantung
Tiada yang dapat lari bersembunyi dari senyumnya
Kalaupun tiada purnama...
Malam pasti akan kembali indah
Jika senyum kasih berkenan menyelimuti
Kasih, kapan kau kembali cerah?

16 okt 2011/20.47 Wib
Share:

Sabtu, 01 Oktober 2011

Desaku tak lagi ramah!


Menunjukan angka 80 sampai 100 km/jam jarum speedometer di motor. Bukan hanya untuk menghindari sengatan matahari, tapi memang harus seperti itu di tengah ramainya kendaraan di kota besar. Tidak tau jalan yang pasti. Hanya dengan modal yakin pasti bisa ketemu, yakin tidak akan nyasar, kupacu terus sepeda motorku, menyusup di selah pinggang mobil-mobil besar. Belum sempat mandi pagi, tapi di siang yang sangat terik itu aku tiba di pusat keramaian kota. Kuusap wajahku yang penuh keringat dengan sapu tangan yang kusimpan di kantong belakang celana belelku. Kemudian masuklah aku di pusat perbelanjaan.
Sekitar pusat perbelanjaan dan lingkungan kota di sekitar yang menjadi setting dari ceritaku kali ini. Dengan kondisi kepala mendidih, kucari tempat yang nyaman untuk sekedar duduk beristirahat. Akhirnya kutemukan kafe di lantai 2 pusat perbelanjaan. Kopi hitam aku pikir bisa meredam kepalaku yang mendidih karena bising dan teriknya perjalanan di kota besar. Dengan duduk di kursi yang melingkari meja, kulemparkan pandangku ke setiap sudut ruangan di sekitarku. Samping kiriku adalah kaca besar yang sengaja dijadikan space bagi pengunjung untuk menikmati pemandangan di luaran sana. Tepat di hadapanku adalah sepasang kekasih dengan sang perempuan berkulit kuning langsat, rambut merah marun dan sebatang rokok di tangan kirinya. Samping kananku adalah remaja (sepertinya anak-anak SMA) yang sedang asyik menikmati minuman dingin dan masing-masing mengotak-atik blackberry di tangannya. Pemandangan seperti itu bukan pemandangan yang pertama kali aku temui, memang. Namun yang paling membuatku tertegun dan meluangkan banyak waktu untuk memutar otak adalah kenapa keadaan ini benar-benar memacu kinerja otakku untuk terus berpikir dan terus melemparkan pertanyaan-pertanyaan dalam hati?
“Pemandangan seperti ini di kampung tempat tinggalku dan di kota tempat aku kuliah juga sudah sering aku temukan”, dalam hati aku menyimpulkan. Memang sudah sangat sulit membedakan pergaulan remaja di kota dan di desa. Fashion-pun agaknya susah untuk dijadikan parameter apakah seseorang berasal dari kota atau desa. Kontaminasi budaya kota sudah menjalar ke pedesaan. “Entah ini sebuah kemajuan atau kemunduran”, pernyataanku pasrah dalam hati. Desaku tak lagi ramah!. Tidak mau terlalu pusing memikirkan hal itu, akhirnya aku putuskan untuk mengalihkan pandangan di samping kiriku. “ini adalah kali pertamanya aku menapakkan kaki di kota ini, aku harus benar-benar menikmati dan mengamati setiap gejala yang aku temukan selama aku ada di sini”, kira-kira seperti itu yang aku pikirkan.
Kaca tebal yang bening dengan ukuran panjang kurang lebih 7 meter melingkar, dan tinggi sekitar 4 meter. Lumayan strategis duduk di sini. Bisa melihat sekitar kota yang panas. Gedung-gedung tinggi. Rumah-rumah yang padat dengan warna kusam oleh debu. Bukit-bukit yang tandus. Namun ada satu pemandangan yang tidak bisa aku temukan dari balik kaca ini. Aku tidak bisa melihat biru langit dan cerahnya awan yang benar-benar alami warnanya. Mungkinkah gara-gara warna mereka sudah tertutup oleh asap pabrik? Asap kendaraan? Di desa tempat aku lahir-pun semakin hari semakin banyak pabrik bermunculan. Jangan-jangan akan terjadi hal yang sama dengan desaku??? Ah, desaku tak lagi ramah.
Setelah duduk-duduk di kursi tadi, ternyata cukup meredakan kondisi kepalaku yang sebelumnya sudah mendidih. Walaupun kini muncul gejala baru dalam pikiranku, yakni pertanyaan-pertanyaan seputar ketakutanku akan kondisi desaku yang kemungkinan besar lambat laun menjadi tidak ramah lagi. Sudahlah, lebih baik aku redam dulu pertanyaan-pertanyaan tadi. Beranjak dari tempat minum kopi, aku menuju lantai 1 karena pesan singkat yang masuk di hp’ku. Ya, aku memang sedang janjian dengan seseorang yang.......???? seseorang yang merasakan hal yang sama saat berada di pusat keramaian seperti ini. Hal tersebut yang justru memperkuat pendapatku, bahwa sepertinya suasana desa itu memang perlu dilestarikan, perlu dijaga! Karena menyangkut kebutuhan psikologis bagi manusia, karena manusia dan alam itu sesungguhnya sangat bersahabat. :)

*in memoriam 31 Juli 2011*

Share:

Selasa, 27 September 2011

Camar di Samudera


Camar di Samudera

Samudera telah pasang pekan ini
Camar berlari meninggalkan biru
Entah sampai kapan ia bersembunyi
Kerna terlanjur ia sematkan rasa
Deburan gelap lalu lalang menyelimuti kalbu
Bimbang ia meringkuk dibalik dingin
Senja semakin rapat di bibir pantai
Camar mengintai dari atas kaca jendela rumahnya
Air mata rindu terus ia tahan seiring gelap yang kian turun perlahan
Balada romansa membaluri ingatan di sekujur kepala
Percikan air diselah dedaunan yang tlah lama kering
Seolah mendendangkan alunan kenangan
Cintanya akan samudera terejawantahkan di kesendiriannya
Apa daya karang tlah rapuh menepis

“Cirebon, 27 Sept. 2011”

Share:

Seumpama

  Pangkuan Mentari

Barangkali cawan ini terlalu lama dalam almari
Hingga hiasan tulisan tlah kabur tertutup debu
Seumpama bahagia adalah saat pagi bernyanyi
Hadirmu kan kuantarkan di pangkuan mentari yang merindu
Seumpama kasih adalah saat kau terjaga diantara malam
Akan kubiarkan pagi menanti di sudut jalan berantah

“Cirebon, 26 Sept. 2011”

Share:

Rabu, 21 September 2011

Kemelut


Kemelut

Pendar rindu membuncah setiap waktu
Tak ayal tatkala aku terpelanting menuju sepi
Kalut memberingsut gelap dan kabut
Hempaskan aroma kasih membaur laksana kemelut
Bulan cemberut mentari-pun takut
Dalam hampanya ruang rasaku tersudut
Semakin tersudut semakin hanyut

“September, Cirebon/Purwokerto”
















Share:

Selasa, 09 Agustus 2011

Peribahasa: Bagai Hukum di Daun Talas


Bagai Hukum di Daun Talas
Oleh : Achmad Saptono

Orang yang nyolong ayam terus ditangkep, dipenjara atau digebukin, dibakar itu udah biasa. Orang yang ngomongnya nyentil-nyentil pemerintah (walau Cuma di Internet) ditangkep, itu juga udah biasa. Mahasiswa pada demo di depan gedung DPR, DPRD atau di Istana negara, ditangkep juga... ya itu biasa. Orang naik mobil atau motor tanpa surat-surat, ditangkep, dikira maling, itu biasa. Orang yang nyolong cokelat, nyolong semangka atau sejenisnya ditangkep selama sekian bulan atau sekian tahun, yaah biasa sih... baru aja kemaren-kemaren kasus itu terjadi.
Para pejabat yang korupsi duit rakyat jutaan, milyaran bahkan sampai triliunan ditangkep, itu biasa...eh, engga ding... pejabat ditangkep? Pura-pura ditangkep mungkin lebih tepatnya, lhah biasanya kan mereka itu sebelum ditangkep, terus mereka tiba-tiba langsung (pura-pura) sakit. Hukum yang ada di negara ini katanya gak berlaku buat orang yang lagi sakit. Pantesan dulu Pak Soeharto itu gak pernah ditangkep ya??? Doi kan sakit-sakitan mulu. Hahhaa.... padahal waktu jaman pemerintahannya Pak Soeharto tau sendiri kan? Ngritik dikit culik, bunuh!! Tembak mati!!! Buktinya sampe sekarang masih ada tuh, Om Wijii Thukul sampe sekarang ilang gak ketemu gara-gara dulu doi ngritik pemerintahannya Pak Soeharto lewat puisi-puisinya.
Share:

Sabtu, 18 Juni 2011

Essay Propaganda Mens sana in Corporesano


KOMODIFIKASI MAKNA SEHAT – SAKIT
Oleh Achmad Saptono

Manusia dalam berbagai bidang mempunyai kepentingan masing-masing, karena manusia adalah mahluk yang berkepentingan. Bidang kesehatan adalah salah satu lahan untuk melanggengkan kepentingan bagi para oknum dalam dunia kesehatan. Makna sehat sengaja diciptakan sesuai dengan maksud dan kepentingan tertentu. Terlepas dari perkembangan dan beberapa perbedaan makna sehat, di bawah ini terdapat beberapa definisi tentang makna sehat yang mengacu pada UU dan WHO.
Mengacu pada UU No.23, Tahun 1992 tentang Kesehatan, bahwa Kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa dan sosial yang memungkinkan hidup produktif secara sosial dan ekonomi. Dalam pengertian ini, maka kesehatan harus dilihat sebagai satu kesatuan yang utuh terdiri dari unsur-unsur fisik, mental dan sosial dan di dalamnya kesehatan jiwa merupakan bagian integral kesehatan. Sedangkan definisi sakit sendiri adalah seseorang dikatakan sakit apabila ia menderita penyakit menahun (kronis), atau gangguan kesehatan lain yang menyebabkan aktivitas kerja atau kegiatannya terganggu.
Share:

Jumat, 17 Juni 2011

Tentang Skripsi


Save Paper For The World
oleh : Achmad Saptono

“Waktu SD, SMP dan SMA jangan dihitung dulu. Mari menghitung kertas yang kita gunakan Sejak pertama kali kita duduk di bangku kuliah. Kalau kita akumulasikan, berapa jumlah kertas yang sudah kita gunakan untuk mengerjakan tugas kuliah, keperluan membuat surat, proposal, skripsi dan sebagainya?”

Bermain, itulah salah satu aktivitasku di kampus akhir-akhir ini sambil menanti ritual dikukuhkannya gelar kesarjanaanku. Perpustakaan di jurusan, perpustakaan fakultas, perpustakaan universitas, termasuk gudang penyimpanan tumpukan proposal dan skripsi di kampusku, adalah beberapa tempat bermainku menghabiskan waktu siang menjelang sore (selain sekretariat UKM dan Kantin). Hal yang aku pikirkan ketika aku berada di ruangan perpustakaan jurusan, fakultas dan perpustakaan universitas adalah tentang “tumpukan skripsi dengan aneka judul dan dengan tebal yang beragam” meyesuaikan minat dan kemampuan mahasiswa.
Share:

Jumat, 03 Juni 2011

Tentang Hidup


Hakikat Hidup

Cantik, menarik
Tampan, menawan
Tak ada pembedaan
Itulah penciptaan
Kekurangan adalah salah satu kelebihan
Kelebihan adalah salah satu kekurangan
Yang penuh pertimbangan
Tidak serta merta tanpa alasan
Karna Dia-lah yang punya hidup dan matinya Manusia
Dunia serta akhirat sudah tersirat dalam diary-Nya
Kita hanya hamba yang menjadi aktor dalam cerita-Nya
Syukuri-lah hidup ini dengan penuh ikhtiar untuk mendapatkan Cinta-Nya
Karna hakikat hidup adalah atas kuasa Cinta dari Yang Maha Esa

"Purwokerto, 03 Juni 2011" 
 
 
Sebersit Senyum dari Sang Rembulan

Gumpalan awan cerah tersenyum menawan
Bak peluru senapan ia melesat menembus ketiadaan harapan
Lembut aura nan tenang berhamburan
Menghujam kalut serta resah di selaksa pikiran

Dari celah keheningan ia mencuri perhatian
Ia menari di antara gelap membakar keputusasaan
Secawan kasih sayang ia tumpahkan tepat di kegelisahan
Hingga mabuk semabuknya menyelami malam kala hujan

"Purwokerto, 03 Juni 2011"

Share:

Kamis, 26 Mei 2011

Naskah Teater

“Mensana in Corporesano”
Oleh : Achmad Saptono


Pemain :
Aleksander (Pria Dewasa 40 Tahun)
Junos (Supir Truk Sampah 45 Tahun)
Pierce (Pemulung 25 Tahun)
Ranti (Ibu Muda pemulung 21 Tahun)
Evan (Anak Pemulung 3 & 18 Tahun)
Tania (Karyawan Pabrik 27 Tahun)

(Panggung sepi, seorang Pria Dewasa (40 tahunan) Aleksander yang dulu bernama Pierce dengan pakaian jas hitam mewah, duduk di depan TV, menonton berita tentang semakin meningkatnya pemulung dan pengais sampah di suatu daerah, kini sahamnya dimana-mana, pabrik, dan perusahaan-perusahaan yang dikelola oleh orang lain (karyawannya), ia hanya duduk di rumah menunggu menerima uang penghasilan saja)

Aleksander :
Hidup yang sehat adalah hidup sepertiku saat ini, jauh dari tempat-tempat kumuh. Aku ingin ini ada yang mengantar, aku ingin itu ada yang menyiapkan. Aku butuh apapun tinggal bilang, dengan mudahnya pelayan-pelayanku yang akan menyediakannya. Aku merasa sehat di dalam negara yang tidak sehat. Ah berita itu...tempat tinggalku di masa lalu... aaargh....
(Aleksander meninggal, lighting black out)
Share:

Selasa, 24 Mei 2011

Buku ke Internet


Zaman Peralihan “Jendela Dunia”[1]
Oleh : Achmad Saptono[2]

“Aku lebih suka mencari bahan bacaan atau materi untuk tugas kuliah dari situs-situs yang tersedia di internet ketimbang mencari dari buku”, ungkap seorang mahasiswa Ekonomi (pen.) di perguruan tinggi negeri yang ada di Purwokerto.

Saya kira hal tersebut bukan hanya dirasakan oleh satu-dua orang mahasiswa saja, tetapi hampir secara keseluruhan mahasiswa saat ini, untuk urusan bahan bacaan atau materi tugas perkuliahan sudah beralih orientasi mencari ke dunia maya (internet). Memang sudah tidak bisa dipungkiri lagi betapa cerdasnya “Paman google” sebagai situs mesin pencari di dunia maya. Dengan menuliskan kata perintah apa saja sesuai dengan keinginan di google, maka ribuan bahkan mungkin jutaan artikel yang diinginkan-pun langsung muncul hanya dalam hitungan waktu sepersekian detik. Bukan hanya google yang saat ini sudah diakui kehebatannya, masih banyak situs-situs lainnya yang menyediakan berbagai macam artikel – yang seringkali dibutuhkan dan sering dikunjungi oleh mahasiswa saat ini. Sebut saja beberapa situs terkenal seperti : Wikipedia, Scribd, Indoskripsi, Kompas, Tribunnews, Detik, Tempo Interaktif, JPNN, Yahoo dan masih banyak situs lainnya yang menjadi halaman favorit pada saat mahasiswa sedang pusing mencari bahan bacaan atau materi tugas perkuliahan.
Share:

Tentang Menulis

Keresahanku adalah Bingung ingin berkata apa? Tuliskan saja lah!
Oleh : Achmad Saptono

“Harus ada keresahan dulu sebelum pentas atau sebelum berkarya, termasuk menulis, kalau tidak resah ya harus dicari keresahan itu. Kalau merasa tidak resah, berarti ada yang salah dengan kepedulian atau kepekaan kita”
Suatu sore yang cerah. Dheas mahasiswa Sosiologi semester 5 di Universitas Negeri Purwokerto (UNP), usai Ashar ia melaju dengan honda bebek menuju kosan Balqis teman satu jurusan dan teman satu angkatannya. Semangat 45 Dheas menghipnotis laju kendaraan yang ia tunggangi seolah kesetanan. Hanya membutuhkan waktu 5 menit untuk menempuh kosan Balqis, yang jaraknya 2 Km dari rumah Dheas. Sesampainya di depan pintu kosan Balqis, Dheas mendapati pintu kosan itu tertutup rapat dengan gembok yang menggantung. “Ah, sial! Kenapa Balqis gak ada di kosan? Pasti dia lagi nongkrong di sekre nih...” gumamnya dalam hati. Tanpa pikir panjang, Dheas langsung menuju sekretariat UKM. Seperti dugaannya, Balqis sedang asik berdiskusi dengan teman UKM-nya di ruang sekretariat.
Share:

SiAnak, Theatre Of Change


Theatre Of Change[1]
(Teater SiAnak : Sebuah pertunjukan yang tidak bebas nilai)
Oleh : Achmad Saptono[2]

“Layaknya ember tanpa air, layaknya gunung tanpa pepohonan, layaknya berjalan tanpa tujuan, layaknya motor tanpa bahan bakar, layaknya pertunjukkan teater SiAnak tanpa isu yang disampaikan!” Kurang lebih seperti itu saya memahami SiAnak sebagai salah satu pertunjukkan teater kampus yang tidak bebas nilai!!!

A.     Tentang Teater Kampus
Dulu pertama kali masuk kuliah, pernah saya mendefinisikan bahwa teater adalah tempat sampah, bahwa teater adalah tempat orang-orang yang tidak waras, teater adalah tempat nongkrongnya mahasiswa-mahasiswa yang akan lulus lama, mahasiswa malas, mahasiswa urakan. Pokoknya, banyak sekali definisi yang saya pikirkan tentang apa itu teater kampus dan sampai sekarang belum ada referensi pasti yang menjelaskan tentang definisi teater kampus. Meskipun demikian, satu hal yang harus diingat bahwa bagaimanapun juga teater kampus jelas berbeda dengan teater komunitas non-kampus (umum). Kenapa berbeda? Di bawah ini akan coba saya jelaskan dengan bagaimana pentingnya peranan teater kampus dalam kehidupan sosial.
Share:

Senin, 23 Mei 2011

Refleksi 21-22 Mei


Laki-laki Gelap di Sudut Jendela

Ayo berlari...
Laki-laki itu berteriak
Bukankah cahaya itu indah
Tak usah takut
Di sana, aku sudah menyiapkan bekal untukmu
Penghilang lapar dan dahaga

Ayo tersenyum...
Laki-laki itu merayu
Bukankah masa lalu tak kan terulang
Tak usah sedih
Aku akan mengajakmu agar selalu bernyanyi
Menghapus gelap masa lalumu

Tidak usah terlalu kau pikirkan gelapmu itu
Karna masih banyak gelap lain yang belum kau jamah
Di jendela itu, di balik gorden itu
Kamu boleh sesekali mengintip gelap
Asalkan jangan terlalu lama

Tempat tidurmu
Selimut dan dinding itu
Mereka yang menghantarkanmu menciptakan mimpi
Mulailah rangkai mimpimu
Ini kali aku akan bantu membingkai mimpi-mimpimu

Dirangkulnya wanita itu
Menuju malam

Laki-laki gelap itu
Pemuda dengan dada lebam menghitam
Perlahan melucuti gaun wanita
Tak sehelai kain-pun tersisa
Dengan nafas terengah ia menikmati gelap di antara selangkangan
Mereka saling menikmati
Mereka larut dalam kenikmatan
Dada yang hitam lebam tak ia hiraukan
Semakin memar..
Darah lebam dalam dadanya semakin menggumpal

Saat itu, menjadi malam tersembunyi
Tanpa sadar malam itu semakin melengkapi kegelapan wanita
Semakin membuat luka lebam menghitam di dada laki-laki kian menjadi

Saat esok tiba
Tampak wajah murung wanita menatap dinding kamar
Sementara laki-laki gelap di sudut jendela
Mengawasi setiap langkahnya
Setiap tarikan nafasnya

Laki-laki gelap di sudut jendela
Lukanya terbalut syahwat
Tertutup birahi dunia

“220511”

Cobaan

Bismillah...
Mengelus dada...
Ya Allah
Astaghfirullah
Lagi
Bukan bertanya
Apalagi menghujat
Ini cobaan atas kehendak-Nya
Ini anugerah penuh hikmah
Syukuri, lalu hadapi saja

“210511”
Share:

Senin, 02 Mei 2011

Refleksi MayDay

MayDay, aksi refleksi semua diri


Ada yang bangga, Ada yang merasa berduka
Ada yang tertawa, Ada yang merasa resah
Ada yang menjajah, Ada yang dijajah, Ada yang merasa terjajah
Semua bermain peran
Ada yang sadar peran, Ada yang tidak sadar peran
Mereka mengenang, lalu terbayang
Ini saatnya untuk kita menentang
Mereka mengenang, lalu senang
Ini saatnya untuk kita pura-pura tercengang
Buruh pahala, buruh dosa, buruh tinta, buruh ketawa
Buruh tani, buruh pabrik, buruh politik
buruh berita, buruh air mata, buruh tinja
Dan buruh-buruh lainnya
Siapa sebenarnya mereka?
Buruh adalah mereka, Mereka adalah kita semua, Kita semua adalah buruh
Buruh migran dan buruh rumah tangga, korban kemiskinan
Buruh pendidikan, korban kebodohan
Ada buruh, ada pemerintah
Ada yang slalu disuruh dan diburu, ada yang selalu memerintah
MayDay bukan ritual, bukan pula seremonial
MayDay, aksi refleksi semua diri


“Minggu pagi, 09.35 WIB/01052011”
Share:
Counter Powered by  RedCounter

Pages

Popular Posts

About Me

Foto saya
Cirebon, Jawa Barat, Indonesia
Seorang Presiden di negara Republik Tinosia

Followers